<body topmargin="0" bottommargin="0" leftmargin="0" rightmargin="0"><script type="text/javascript"> function setAttributeOnload(object, attribute, val) { if(window.addEventListener) { window.addEventListener('load', function(){ object[attribute] = val; }, false); } else { window.attachEvent('onload', function(){ object[attribute] = val; }); } } </script> <div id="navbar-iframe-container"></div> <script type="text/javascript" src="https://apis.google.com/js/platform.js"></script> <script type="text/javascript"> gapi.load("gapi.iframes:gapi.iframes.style.bubble", function() { if (gapi.iframes && gapi.iframes.getContext) { gapi.iframes.getContext().openChild({ url: 'https://www.blogger.com/navbar/5503041?origin\x3dhttp://catatansangkakala.blogspot.com', where: document.getElementById("navbar-iframe-container"), id: "navbar-iframe" }); } }); </script>

Dikirim 17.9.07    
Mengkaji Kesusastraan Masisir Hari Ini 

Hanya Sebuah Catatan Ringan
Oleh: SangKaKaLa*

Sastra dan peradaban terkait simpul-simpul aneh, terkadang begitu akrab dan mesra. Namun terkadang juga malah jauh bertolak belakang. Mekah pra-islam sangat terkenal dengan syair-syair dan keindahan gaya bahasa, namun peradaban mereka harus rela disebut sebagai masa kegelapan. Ini sangat jauh bertolak belakang dengan statement "sastra dan keindahan seni budaya selalu diidentifikasikan sebagai fakta dari peradaban tinggi".

Arus globalisasi tidak harus membuat kita lari dari kenyataan, budaya konsumtif rakyat indonesia dan negara-negara berkembang lainnya sudah sekian jauh tenggelam ke dalam kancah peperangan pemasaran terbuka. Bahkan kita hampir melupakan budaya produktif yang seharusnya lebih dikedepankan demi mempertahankan ciri has kebudayaan nenek moyang sendiri.

Sastra terkadang hanya dinilai sebagai hiburan di waktu luang. Kita lebih terpojokan dengan dunia feodalisme-materialistis segala sesuatunya selalu disangkut-pautkan dengan harta dan uang. Dan tentu saja menciptakan karya sastra bukan menjadi hal prioritas, karena memang sastra bukan lahan subur bagi negara yang tengah berkembang yang umumnya mengagung-agungkan riset, teknologi dan keilmuan.

Lebih parahnya lagi, umumnya masyarakat indonesia lebih bangga dengan apa yang ada pada negara lain, lebih spesifiknya negara-negara barat (Eropa dan Amerika). Bukan hanya mengikuti style berpakaian dan hidup mewah, tetapi terlebih segala wacana keilmuan dan kesusastraan lokal juga sudah banyak terpengaruhi.

Dan kesusastraan sendiri bukan dianggap bagian dari peradaban modern. Lagi-lagi kesusastraan tersingkirkan oleh jaringan bisnis dan hal-hal yang bersangkutan dengan materi. Sedangkan tata bahasa, sopan-santun dan keindahan entah berada pada urutan prioritas kelas berapa?

Dan jika kita menyimak lebih lanjut pada kesusastraan Masisir, mudah-mudahan coretan-coretan ini bisa sedikit mendiagnosa kevakuman yang sekarang kita hadapi. Pekerja-pekerja sastra dan geliat parsial terputus mereka membuat kita kembali mempertanyakan eksistensi kesusastraan masisir, baik secara individu maupun komunal. Terhitung dari tahun 2004 hingga pertengahan 2007 ini, buku sastra tidak banyak dicetak dan dipasarkan di kalangan masisir. Dalam catatan saya tidak lebih dari empat buku saja yang berusaha tampil prima namun kandas lesu di pangkalan-pangkalan berkumpulnya mahasiswa. Entah itu di warung-warung makan, warnet-warnet, atau bahkan sekretariat-sekretariat.

Terlepas dari kualitas dan produktivitas masisir dalam mengembangkan kesusastraan, boleh jadi memang masisir gak doyan sama produk sastra karena prioritas kedatangan ke negri kinanah ini bukan untuk membuat novel, cerpen dan puisi. Tetapi untuk lebih mengkaji segala wacana keilmuaan, keagamaan khususnya. Sedangkan sastra hanyalah salah satu media untuk mengeksplorasi keilmuan dan pengalaman.

Bertambahnya jumlah masisir mungkin juga salah satu penyebab kelesuan bersastra itu lebih dalam lagi. Bukan hanya karena sastra minim apresiasi, tetapi lebih ditinjau dari kerangka orientasi masisir yang berubah dari orientasi ke-nasionalan menjadi ke-daerahan.

Tahun 2004 tercatat sebagai gelombang kedatangan mahasiswa indonesia terbesar pertama di negri seribu menara. Ini membuat komunitas-komunitas sastra pada skala masisir menjadi kurang diminati. Masisir lebih akrab dan hangat untuk berbincang dengan teman sedaerahnya atau sealmamaternya dan bahkan se-afiliatifnya.

Ditandai dengan kandasnya Sanggar Kinanah yang menurut saya menjadi satu-satunya wadah independen sastra sekaligus budaya masisir yang ada. Disusul kemudian oleh kelesuan KSI korda Kairo yang beberapa tahun saja berdiri tegak, terbukti dengan hanya belasan orang dari ribuan masisir yang menghadiri acara bedah buku Antologi “Melukis Sahara”. Padahal panitia bedah buku itu sendiri mengatakan sudah melakukan sosialisasi besar-besaran. Dan menjamurnya penghidupan sastra di kekeluargaan, almamater dan organisasi afiliatif atau kemasyarakatan. Sebutlah semisal Papyrusnya PCIM dan Sanggar Piramida IKBAL ini.

Entahlah, apa memang jiwa kesastrawanan itu sendiri yang selalu mencari ketentraman-kesepian sehingga mereka akhirnya merasa cukup terpuaskan untuk menghidupi kelompok-kelompok kecil yang sekarang beranjak besar dengan bertambahnya anggota? Atau memang ini hanya geliat sementara karena kejenuhan pluralisme yang nantinya akan kembali bersinergi lebih kencang.

Padahal saya yakin, mereka selalu mempertanyakan mengapa kesusastraan masisir dianggap absen. Sebetulnya mungkin lebih layak disebut "mati suri" karena ia tidak mati juga tidak hidup. Sastra masisir terpecah-pecah pada kelompok-kelompok kecil, dan terikat pula dengan aliran-aliran. Semisal FLP Mesir yang lebih konsen di sastra agamis. Sedangkan pada saat Sanggar Kinanah jayapun, sastra masisir masih minim apresiasi. Apalagi kalau kita terpecah menjadi kelompok-kelompok kecil?

Solusi yang saya tawarkan seperti ini. Kelompok-kelompok sastra yang ada tetap kita kembangkan sedemikian rupa, hingga penghabisan potensi. Tetapi kita juga perlu menghidupkan Wadah Sastra baru yang independen dan terbuka. Proyek ini harus ditangani secara serius dan bersama-sama. Jika kita tidak ingin sastra masisir berlama-lama di alam mimpi, sebaiknya hindari memarginalkan kelompok terkecil apapun dari bahtera masisir ini. Buang jauh-jauh pemilahan aliran kesusastraan dan junjung pluralitas setinggi-tingginya.

Langkah perdana mungkin bisa berbentuk kolaborasi karya sastra dari kelompok-kelompok kecil itu yang nantinya dibukukan dan dipasarkan pada seluruh masisir, bisa berupa antologi cerpen dan puisi. Atau bisa juga dengan mengadakan kolaborasi pegelaran sastra untuk menghangatkan kembali kesusastraan yang sedang mati suri itu.

Sebenarnya saya sendiri yakin, masisir tidak miskin potensi kesusastraan, masih banyak catatan-catatan tercecer di gedung-gedung kubus padang pasir ini. Sayangnya belum sempat terangkat, bukankah sastrawan itu biasanya malu-malu dan merendah diri? Tetapi kita juga perlu survive untuk unjuk gigi, bahwa masisir tidak miskin kesusastraan.

Dan lagi-lagi saya optimis, akan ada tokoh-tokoh penulis karya best seller alumnus masisir seperti Kang Abik dan Teh Ika Yunia yang lain. Maka, mari kita mulai sekarang juga untuk berkarya dan terus berkarya. Alam bumi para nabi ini bukankah sangat menarik untuk dieksplorasi sedalam mungkin. Dan juga kita lebih leluasa melukiskan dan membandingkan hal-hal yang unik dari tanah air kita dengan negara menara-menara ini.

Suhu yang beku ini harus segera kita hangatkan, ayo tambah lagi kayu bakarnya. Bakar! Bakar! Bakar! Cairkan bongkahan-bongkahan es itu!

Akhirnya, tiada tiada gading yang tak retak. Dan manusia itu sendiri bukanlah mahluk yang bisa mencapai tingkat kesempurnaan. Wallâhu a'lam.

*) mahluk doyan puisi.


Dicatat oleh Unknown, Jam 4:59 PM |