Enam tahun sudah, saudara-saudaraku di Banten Selatan melambat langkah. Bawa hasil-hasil alam dari tani, kebun, laut, sampai tambang dengan susah payah. Mereka sadar, negeri ini tidak punya cukup biaya untuk sekedar memperbaiki jalan.
Pengurus-pengurus pemerintah entah sudah berapa kali berganti. Dan harapan perbaikan jalan sudah pasang-surut layaknya ombak Bageudur yang tiada duanya di tanah Sultan Hasnuddin ini. Setiap pemilihan Dewan yang mewakili di kursi parlemen kabupaten, propinsi, nasional mereka titipkan selalu apa yang menjadi keluh-kesah. Jalan, irigasi, serta infrastruktur yang lebih baik.
Tapi lagi-lagi, sabar menjadi kata sakti. Hari ini bahkan sudah menjadi zimat. Mereka sadar, mereka sendiri yang membuatnya seperti itu. Bawa beban berlebih. Ongkos kirim melejit naik, ah tak perduli. Toh masih laku walaupun dengan perhitungan yang janggal. Belum lagi Bahan Bakar Minyak tidak tentu harga. Yang pasti sih, selalu naik. Tindak-laku mulai tak tentu, lagi-lagi entah. Mereka tidak tahu apa yang harus dilakukan. Yang pasti sudah tidak lagi berharap. Sabar tidak menjadi kata sakti lagi. Zimat juga tidak. Mungkin sekarang sabar berarti hilang. Hilang dari kamus kehidupan.
Berkebun, beternak, dan bertani. Terus seperti itu. Mereka harap, suatu hari nanti bisa membeli kendaraan bermotor. Ya, kendaraan bermotor yang gagah. Seperti di sinetron-sinetron. Bahkan rumah yang megah, pakaian yang mewah. Atau? Oh, ya. Mereka ingin pelesir ke luar negeri. Melihat-lihat Pyramida Mesir kuno, prajurit Dinasti Ming yang hebat, lukisan-lukisan Da Vinci, kincir angin negeri jeruk, kereta tanpa rel negeri Nazi, bahkan Ka’bah. Ya, Ka’bah. Pusat kiblat seluruh dunia ketika shalat.
Hitung. Hasil panen dihitung. Nyatanya, ongkos produksi lebih besar dari satuan harga hasil alam yang mereka olah. Sebab pupuk subsidi susah ditemukan. Kalau pun ada, harganya tidak seperti tayangan iklan layanan masyarakat di layar kaca.
Sabar, tumbuh kembali menjadi kata sakti. Tidak ada pilihan lain. Berkebun, bertani, dan beternak yang bisa mereka lakukan. Mau berdagang tidak cukup modal. Belum lagi pesaing sekelas toko retail gaya ibukota yang bersih, ber AC, menyala terang, pakai komputer yang canggih. Wuih. Melihat saingan seperti itu saja bikin berdiri seluruh bulu kuduk.
Kemudian hari, yang mereka harapkan adalah sebuah keajaiban. Ya, keajaiban. Seperti di film-film. Mencari uang itu mudah. Tinggal datang ke orang pintar. Mereka pasti tahu solusinya.
Dengan mudah, kawanku berkata. “Wah! Selingkuh nih, ceritanya?”
Setelah dia melihatku mengemudi sepeda motor Honda Tiger Revo. Maksudnya aku dianggap menyelingkuhi sepeda motor tua –klasik- Honda CB-100 yang biasanya kutunggangi. Hobi kami tentang tunggangan besi roda dua, memang sejak dua tahun terakhir, sama. Atau cenderung sama –sepeda motor jadul- seperti juga sedang semarak di antara beberapa pemuda belakangan ini. Kami acapkali nongkrong di alun-alun kecamatan pada akhir pekan. Sekedar melihat-lihat perkembangan dan melepas penat. Ada yang menunggangi Yamaha 70, BSA, Honda 70, CB-Glatik –termasuk juga kawanku, dia merawat jenis ini- dan segerombolan Vespa dengan berbagai rubah-rangkai yang bermacam-macam. Dan banyak lagi kelompok-kelompok motor keluaran anyar. Biasanya, kami hanya memesan satu-dua gelas kopi dan beberapa bungkus camilan. Ada juga yang datang untuk makan malam di warung-warung kaget kaki lima. Kata ‘selingkuh’ mungkin berasal dari kata ‘sela’ yang kemudian jika beragam atau diulang terangkai menjadi ‘selang-seling.’ Sela, jika dijadikan kata benda tempat, menjadi ‘selat’ seperti Selat sunda yang berarti pemisah –separator- dan lagi-lagi mungkin kata –maaf- ‘selangkangan’ berarti sela di antara dua pangkal kaki. Bisa juga menggunakan kata ‘selah’ yang berarti ‘celah.’ Orang sunda, sampai saat ini masih banyak yang memakai kata itu –selah- seperti dalam kalimat “selah-selah batu” artinya celah-celah batu.
Pada perkembangannya (penyempitan) kata ‘selingkuh’ lebih dimaknai sebagai ‘penghianatan’ dan lebih sempit lagi menjadi penghianatan cinta. Misalnya seorang kekasih berselingkuh dengan perempuan/laki-laki lain. Pun seorang suami/istri menyelingkuhi pasangannnya.
Sejatinya, makna ‘sela’ diartikan ‘di antara’ atau ‘jeda’ –kt. Kerja- atau ‘pemisah sementara dari sebuah kesatuan/keutuhan’ lebih mudahnya, saya artikan sebagai ‘halte’ perhentian sementara, untuk kemudian kita melanjutkan perjalanan ke rute berikutnya. Contoh, kalimat “Kami, mengobrol di sela-sela acara.” Dan tentu saja, kata ‘selat’ tidak akan digunakan jika hanya ada satu pulau. Seperti juga kalimat ‘celah-celah batu’ tidak akan pernah diucapkan jika di situ hanya terdapat satu batu.
Sangat besar kemungkinan, kecenderungan manusia yang “pembosan” telah membidani kata selingkuh –sela- karena manusia buka robot atau malaikat yang tahan melakukan satu hal berulang-ulang dan terus-menerus –kontinyu- tanpa rehat. Layaknya kami nongkrong di alun-alun sebagai perselingkuhan atas aktifitas sehari-hari yang terasa membosankan. Hanya untuk melepas penat dan kemudian melanjutkan lagi aktifitas itu dengan keadaan psikologi yang lebih segar.
Ahir pekan lalu, kawanku bercerita tentang kawannya berselingkuh dengan gadis tetangga kampung. Dan parahnya, setelah pacarnya menangkap basah perselingkuhan itu, kawannya kawanku malah memutuskan tali kasih yang sudah berjalan tahunan itu. Dia lebih memilih si cantik jelita kenalan barunya saat menonton wayang golek di alun-alun kecamatan kami ini sebulan yang lalu. Dengan alasan, kekasihnya itu sudah tidak lagi perhatian, tidak lagi mesra dan bahkan cenderung terasa membebani hari-harinya.
“Semoga saja, para pejabat negeri ini tidak berlama-lama berselingkuh dengan penggelapan dana masyarakat banyak, kawan!” celotehku sekenanya. Dia mencibir.
Kuseruput kopi ‘dukun’ – begitu kunamai kopi hitam tanpa gula- lalu kuhisap rokok dalam-dalam.
“Apalagi tidak kembali kepada cita-cita membela dan mensejahterakan rakyat.” Jawabnya kemudian.
“Ya! Walaupun kita sering menunggak tagihan pajak, air, dan listrik.” Aku menimpali.
“Aku malah memanipulasi nilai pajak yang harus dibayarkan perusahaanku.” Jawabnya lagi.
“Hehehe. Aku sampai detik ini, belum pernah merasa membayar pajak, kecuali hanya pajak kendaraan bermotor saja.” Aku menimpali lagi. Dan kami tersenyum miris.
Jangan-jangan para pejabat negeri kita ini sudah nyaman tidur di halte, seperti aku merasa nyaman mengendarai si “Harimau hitam” besi roda dua baruku, alih-alih harus kembali mengurus si CB-100 yang selalu rewel. Dan jangan-jangan para pejabat kita tidak lagi mau beranjak dari selangkangan, seperti kawannya kawanku yang malah mempererat pelukan dan pagutan di bibir si gadis manis tetangga kampung, alih-alih melirik kembali mantan kekasihnya yang telas puas dilumati.
Ah, mungkin saja kata sela, selat, selah, saat ini sudah bergeser maknanya menjadi di antara sesuatu dan sesuatu yang entah.