Hari ini, saya mengulang masa lalu. Menyepakati kembali kesimpulan yang sangat menakutkan. Menganggap diri sendiri sebagai penyakit, wabah, derita orang lain. Terasa ke manapun singgah, selalu ada yang terluka. Lebih-lebih menangis. Tersakiti. Baik oleh perbuatan atau ucapan. Mungkin saya memang penyakit.
Lalu, terbayang lagi sebuah pelarian, lari dari kehidupan orang banyak. Mungkin benar, saya bukan manusia. Karena manusia, selalu bisa bersosialisasi, tapi saya tidak! Ada titik-titik di saat saya mencoba berlari dari kehidupan itu sendiri.
Akan lebih baik, tidak tercatat dalam sejarah kehidupan; dari pada tercatat sebagai “biang kerok” permasalahan. Selalu membuat orang geram, marah, mengutuk.
Tidak, saya tidak sedang berusaha menjadi malaikat yang katanya selalu benar. Patuh. Tidak pernah melakukan kesalahan sedikitpun. Terbebas dari segala dosa. Dijamin masuk sorga. Tapi, setidaknya, jangan juga menjadi iblis. Selalu dikutuk, dikecam. Bukankah, keberlarian itu menjadi pilihan yang lebih tepat? Bahkan, pernah beberapa kali saya bertanya. Mengapa harus dilahirkan, menjadi bagian dalam sejarah kehidupan manusia?
Ah, mungkin saya sedang sakit. Besok harus menemui psikiater!
Perjalanan hidup tidak sesederhana yang saya bayangkan. Semakin sulit membedakan, mana yang wajar; dan mana yang sebaliknya.
Bisa jadi, saya orang yang terlambat dewasa memahami pluralitas, tarik-ulur, baik-buruk, tinggi-rendah, dan tentunya dengan setiap gradasi-gradasi dalam setiap masing-masing susunannya.
Mungkin juga, keadaan yang belum berkenan menunjukkan jalan yang kemudian bisa dijadikan patokan untuk berinteraksi. Patokan standar. Tapi lagi-lagi, patokan standar selalu dikembalikan kepada pendapat umum yang belum pasti menjadi sebuah kebenaran. Mencari dan mempertahankan kenyamanan menjadi sesuatu yang harus dibayar mahal. Bukan hanya dengan materi, tapi terutama dengan dan oleh konsekwensi-konsekwensi yang terkadang mengganggu kenyamanan itu sendiri.
Tapi, kehidupan harus melulu sejajar dengan tuntutan. Karena kehidupan adalah tarik-ulur, sebab-akibat, neraca.