<body topmargin="0" bottommargin="0" leftmargin="0" rightmargin="0"><script type="text/javascript"> function setAttributeOnload(object, attribute, val) { if(window.addEventListener) { window.addEventListener('load', function(){ object[attribute] = val; }, false); } else { window.attachEvent('onload', function(){ object[attribute] = val; }); } } </script> <div id="navbar-iframe-container"></div> <script type="text/javascript" src="https://apis.google.com/js/platform.js"></script> <script type="text/javascript"> gapi.load("gapi.iframes:gapi.iframes.style.bubble", function() { if (gapi.iframes && gapi.iframes.getContext) { gapi.iframes.getContext().openChild({ url: 'https://www.blogger.com/navbar/5503041?origin\x3dhttp://catatansangkakala.blogspot.com', where: document.getElementById("navbar-iframe-container"), id: "navbar-iframe" }); } }); </script>

Dikirim 18.9.07    
Tarawih Tour #2 (3-4 Ramadhan 1428 H) 

Hanya Sebuah Catatan Ringan

Mengejar apa yang kita impikan harus melulu membutuhkan perjuangan dan pengorbanan. Sangat jarang sekali mimpi didapatkan dengan mudah, sekalipun ada kepuasannya tidak sempurna. Ambilah sebuah contoh, hari ini saya memimpikan punya pesawat pribadi yang kapan saja saya mau bepergian tidak usah lagi direpotkan dengan waiting list. kemudian datanglah si dermawan memberikan pesawat itu. Tentu saja kepuasannya jauh berbeda dengan ketika saya berjuang sendiri mendapatkan apa yang diimpikan itu dengan selaksa perjuangan dan pengorbanan.

Setelah jadwal Tarawih Tour #1 yang ternyata terbentur dengan agenda lain, kami menyiasati konsistensi jadwal dengan mengundurkan Target Mesjid Imam Syafi'i ke Tanggal 3 Ramadhan yang seharuskan di Mesjid Al-azhar. Sebelum berangkat, ada beberapa pertimbangan yang harus difikirkan. Opsi Pertama, Berangkat lebih awal mengingat jarak dari Mantiqah (Pemukiman) kami ke Mesjid Imam Syafi'i menghabiskan waktu kurang lebih 45-75 Menit. Opsi Ke-dua, Berangkat setelah berbuka puasa mengingat akan susah mencari makanan pembuka di sekitar Mesjid. Karena yang saya bayangkan (Pengalaman berkunjung 3 tahun lalu) pemukiman di Sekitar Mesjid Imam Syafi'i masih tergolong Kampung, walaupun tidak terlalu jauh dari pusat kota.

Setelah berfikir berulang kali, akhirnya kami memutuskan memilih opsi ke-dua. Seharusnya ketika memilih opsi ke-dua ini, tidak menghabiskan waktu banyak untuk berbuka. Karena harus segera mengejar Tarawih. Tapi apa mau dikata, keterlambatan pun terjadi. Terutama untuk Antri mandi. Setidaknya 40 Menitan hanya untuk alokasi mandi. Hingga menjelang Isya baru bisa berangkat dari Mantiqah. dan tentu saja terlambat. Memasuki Tarawih Rakaat ke-3 sampailah di tempat tujuan.

Sebenarnya sudah dari awal Masuk ke Mesjid, perasaan saya mengatakan ini bukan Mesjid Imam Syafi'i. Tapi karena si Sopir Angkot mengatakan ini Mesjid Imam Syafi'i dan di tambah lagi bangunan Mesjid itu baru saja direnovasi dan tentu saja mengaburkan memori 3 tahun lalu ketika saya sempat diajak berkunjung oleh Salah seorang Senior. Masuklah kami ke mesjid itu. dan menyelesaikan Shalat Tarawih yang kemudian kami susul dengan Shalat Isya.

Dengan hati penasaran kami pun bertanya kepada Masyarakat sekitar sana. Benar saja, Mesjid Imam Syafi'i yang asli sekitar 100 Meter dari tempat kami Tarawih. Ternyata Rute Trayek Angkot sudah berubah, dulu Anggot berhenti tepat di depan gerbang Mesjid Imam Syafi'i. Sekarang sudah dipindahkan agak ke luar. itupun tidak ada lagi Pangkalan Angkot, hanya Jalan sempit yang dipadati lalu-lalang kendaraan Umum.

Agak sedikit mendongkol sebenarnya, tapi itu sudah terjadi. Mau-tidak mau besoknya harus kembali ke sana, karena jika menunggu tanggal ganjil lagi (5 Ramadhan) maka harus mengorbankan 2 Target Mesjid yang lain.

4 Ramadhan

Belajar dari pengalaman (Try and Error), itu mungkin jargon yang membuat kami berangkat lebih awal. Satu jam sebelum Maghrib tiba, sudah bertolak dari Mantiqah. Dihantar oleh pak Sopir Taksi, karena tidak ada Mobil Angkutan dari dan ke pemukiman. Kecuali jika ada Bus yang lewat. Kebetulan Mantiqah Kami dekat dengan Pangkalan Bus Kota Pemerintah yang datang untuk mengisi Bahan Bakar Gas.

Tidak terlalu lama menanti, ada Mini Bus Jurusan Sayedah 'Aisyah yang ditunggu.

"Sayedah 'Aisyah ya 'Ammu?" ("Ke Sayidah 'Aisyah, Paman?")

Pak Sopir tua lantas mengangguk mengiakan. Sedikit berlari kami menaiki Mini Bus itu, padahal sedang menunggu 'tukang' Kios untuk membayar Air Mineral dan Makanan Pembuka. Persediaan saja, takut berbuka di jalan. Akhirnya tidak jadi membeli persiapan berbuka, dan lagi Insya Allah tidak sampai kemaghriban di jalan.

Lagi-lagi perasaan saya terasa kurang sreg berada di dalam Mini Bus itu. Karena Mini Bus ke Sayedah dari Hay 'Asyir harusnya bernomer 45, ini bukan. Tapi biarlah, mungkin ada Mini Bus Nomer lain yang juga Jurusan Sayedah 'Aisyah. Toh di depan kaca Mobil itu tertulis pula Sayedah 'Aisyah.

Ah, Benar saja. Ternyata Mini Bus itu tidak langsung ke Sayedah 'Aisyah. Tetapi memutar dulu ke Arah Tahrir. Biarlah, sekalian Shalat Maghrib di sana. Beberapa Kilo Meter lagi sampai ke Tahrir, terdengar suara besi patah dari bawah Mesin kendaraan yang kami tumpangi. Lagi-lagi Musibah terjadi, kami tidak bisa melanjutkan perjalanan dengan Mini Bus itu. Mogok, mungkin Tongkat persenelengnya patah.

Terpaksa mencari Angkot Jurusan Tahrir atau Ramsis, Terminal paling dekat dari sana. Tapi sebelumnya kami sempat 'adu mulut' dengan bapak Sopir Mini Bus.

"Paman, kami tidak terima diperlakukan seperti ini"
"Kenapa? Ma'af, ini kan musibah" saut pria setengah baya itu.
"Bukan masalah itu paman, mengapa paman mengiyakan ketika kami tanya "Ke Sayedah 'Aisyah?"" saya menimpali, agak sedikit ngotot.

Hampir seperempat jam adu argumentasi. Alasan beliau, karena tidak mendengar dengan jelas apa yang kami tanyakan sebelum menaiki Mini Bus itu. Sebenarnya dia baru keluar dari garasi Perusahaan Angkutan, jadi walaupun di kaca Kendaraan tertulis Sayedah 'Aisyah, tapi dia harus ke Tahrir terlebih dahulu. Tetap saja kami kesal, kalau memang tak mendengar mengapa mengiakan? Seharusnya dia bertanya dahulu. Dan kesalahan Beliau yang ke-dua, tidak memberikan kami karcis tanda pembayaran; Dengan alasan ini kami sempat mengancam mengadukannya ke Perusahaan Angkutan yang tertulis besar di Body Mini Bus itu. Sebenarnya tidak tega mengancam, tapi biarlah untuk pembelajaran supaya tidak berlaku curang lagi.

Mesjid Yang Kurang Terawat

Alangkah terenyuhnya hati ini. Sampah berserakan di sekitar halaman Mesjid. Sangat jauh dikatakan terawat. Mungkin karena berada di perkampungan, ditambah lagi di sekitar Mesjid itu banyak sekali Pedagang Kali lima dan Toko-toko kecil. Bahkan tepat di depan gerbang Mesjid, Cafe Syisya -Rokok Arab yang biasa dihisap dengan selang yang kurang lebih 1 Meter panjangnya- mendominasi Los-los ruas jalan kecil itu. Saya membayangkan, mungkin di dalam Mesjid juga sama tidak terawatnya. Ternyata tidak, Ruangan Mesjid sebelah dalam tampak bersih dan bercahaya.

Itu mungkin kesan pertama melihat Mesjid Imam Syafi'i di daerah Sayedah 'Aisyah, Kairo. Sebelumnya, setelah 'adu argumentasi' dengan Sopir Mini Bus -hingga memaksa kami untuk berbuka di jalan-, tak lama kemudian melintas Angkot Jurusan Terminal Ramsis. Tanpa ragu lagi kami stop. Membeli makanan sekedar mengganjal perut dan Shalat Maghrib di Mesjid Ramsis, tepat di depan Bank Misr di bahu Jalan Raya. Tanpa kesusahan kami berangkat ke Sayedah 'Aisyah, mungkin bisa dikatakan Terminal Ramsis adalah pusat Transportasi. Bus Jurusan mana pun ada. Hingga ke Luar Kota. Bahkan Kereta Api.

"Gila, gi (panggilan saya) ini Mesjid apaan? gede banget!"
"Oh, ini kayaknya Mesjid Rifa'i deh. Coba tanyain ke Orang Mesir yang di samping lo!"

Setelah ditanyakan, tak jauh dari perkiraan. Perjalanan dari Terminal Ramsis ke Sayedah 'Aisyah dengan Angkot yang kami tumpangi memang melalui dua Mesjid yang berdampingan [Mesjid Rifa'i (dibangun antara tahun 1356-1363 oleh seorang Wanita, Yaitu Ratu Dowager Khushyar) dan Mesjid Sultan Hassan]. Juga tak jauh dari Kedua Mesjid yang seakan 'Berteman' itu, berdiri dengan megahnya Mesjid Muhammad Ali (dibangun tahun 1830 oleh arsitektur Yunani bernama Youssef Bochna) yang dulunya tidak hanya Berfungsi sebagai tempat Ibadah, tetapi dipergunakan juga sebagai Pengadilan. Sekarang hanya jadi Musium tempat Pelancong berpariwisata.

"ayo gi, kenapa berhenti di sini?"
"bentar ah, gw mo nyogar (Merokok) dulu nih. Nyampe sono kaga' enak bego, nyogar pasti diliatin lo!"

itu mungkin sedikit perbincangan, sebelum akhirnya menaiki Angkot yang memboyong kami dari Sayedah 'Aisyah ke Halte Imam Syafi'i.

Dering Ponsel Mengganggu Konsentrasi

Setelah Adzan berkumandang, Masyarakat berdatangan untuk Shalat Isya dan Tarawih. Sangat padat, mungkin ada juga yang tidak kebagian tempat dan terpaksa Shalat di pelataran Mesjid. Rupanya Nama Imam Syafi'i masih harum hingga saat ini. Padahal beliau dilahirkan sekitar 13 Abad yang lalu, tepatnya tahun 150 H.

Shalat Isya Berjama'ah diawali dengan Iqamah. Ada satu has di Mesjid ini yang sangat mirip dengan budaya Indonesia, Yaitu cara Mengucapkan kata 'Amien' pada akhir pelapalan 'Ummul Qur'an'. Jeda yang pas dengan 'Getaran' hati Indonesia saya. Sangat sulit di dapatkan di Mesjid lain di Mesir. Membuat saya harus rela sedikit terharu, mengingat 2 tahun sudah tidak berjama'ah Tarawih di Tanah kelahiran dan bisa jadi 2 Iedul Fitri juga tidak sempat bertatap muka dengan Keluarga. Kemudian dilanjutkan dengan Shalat Tarawih.

Dering Ponsel. Padahal sudah sangat akrab sekali kata-kata "Harap Mematikan Ponsel Di Mesjid Ini" tetapi bukan manusia namanya jika bukan menjadi tempat 'Salah dan Lupa'. Saya cukup kesal dibuatnya, Monophonic pula! Suaranya yang menggigit telinga "Bip! Bip! Bip!" sangat mengganggu ke-khusu'-an berjama'ah. Termasuk Imam. Fatalnya tidak hanya sekali, tetapi berkali-kali. Harusnya si pemilik Ponsel langsung menekan Tombol Power, tetapi tidak dilakukan; Atau mungkin memang Polsel itu tidak bertuan! Astaghfirullah, Jangan mengumpat!

Dua Rakaat Tarawih itu sudah terganggu, hanya karena Dering Ponsel. Selesai salam, Bapak Imam mengingatkan seluruh Jama'ah yang membawa Ponsel untuk mematikannya. Lalu kembali Takbiratul Ihram, Allahu Akbar! Tetapi lagi-lagi di antara Rakaat satu dan dua, nada menggigit itu kembali terdengar, sepertinya dari sumber yang sama. Sialan...!! Hati saya mengumpat. dan ternyata bukan hanya saya, mungkin sang Imam ikut pula mengumpat hingga lupa hafalan Qu'an yang sedang dia lantunkan. Membuat beberapa Ma'mum yang lain mencoba meneriaki, membantu lanjutan potongan ayat yang terputus itu.

Masalah dering Ponsel pada saat berjama'ah harusnya dianggap serius, karena bisa mengganggu ke-khusu'-an beribadah. dan tentu saja merugikan orang banyak. Apa susahnya hanya untuk menonaktifkan Ponsel? atau jika memang tidak ingin mamatikannya, cukuplah pilih 'Profile Silence' yang tidak bunyi dan tidak getar. dan jika dianggap perlu, tinggalkan sajalah Ponsel itu di rumah. dan katakan, Saya sedang sibuk 'Menghadap Allah', bukankah untuk menghadap manusia saja terkadang perlu untuk mematikan Ponsel?

Mengunjungi Makam Sang Imam

Tentu saja tujuan terpenting dari kunjungan kali ini bukan hanya ingin mengetahui dan memperbandingkan cara 'bertarawih', tetapi tujuan selanjutnya untuk berziarah. Tiga Tahun sudah, baru bisa melihat peristirahatan terakhir Sang Imam lagi. ada sebuah kekangenan yang menyelimuti hati. Ini Makam Imam besar, Saya kembali mengumpat.

"eh, gi! itu kertas-kertas sama duit buat apaan ditaro di Makam imam syafi'i?"
"gak tau, buat yang ngurusin Makam kali!"
"ye, kalo buat yang ngurusin Makan, Kenapa gak dikasih sama Pengurus Mesjid aja Sekalian; atau langsung aja tanyain, siapa yang ngurusin nih Makam!"
"bener juga yah, gak tau dah!"

Sempat saya berfikir, mungkin gak yah orang Mesir yang dianggap 'Ibunya Dunia Pendidikan Keislaman' justru malah melakukan hal-hal yang dianggap 'Khurafat'? ah, entahlah. Bisa jadi, bisa Jadi. Bukankah manusia itu lagi-lagi 'tempatnya salah dan lupa'?

Setelah berpose secukupnya, kami segera pulang. Sebenarnya masih sangat ingin berlama-lama melihat-lihat sekeliling Mesjid itu, tapi apalah daya; Memang Jam 9 Malam Mesjid ini harus segera ditutup. Kami termasuk orang yang paling terakhir keluar; itupun karena melihat lampu-lampu Mesjid satu-persatu dimatikan.

Cukup sekian dahulu cerita perjalanan Tarawih Tour #2. Terima kasih telah ikut membaca dan menyimak. Nantikan Cerita Tarawih Tour #3 yang ditargetkan di Mesjid Al-azhar.

Wassalam,
SangKaKaLa


Dicatat oleh Unknown, Jam 7:53 AM |    




Dikirim 17.9.07    
Mengkaji Kesusastraan Masisir Hari Ini 

Hanya Sebuah Catatan Ringan
Oleh: SangKaKaLa*

Sastra dan peradaban terkait simpul-simpul aneh, terkadang begitu akrab dan mesra. Namun terkadang juga malah jauh bertolak belakang. Mekah pra-islam sangat terkenal dengan syair-syair dan keindahan gaya bahasa, namun peradaban mereka harus rela disebut sebagai masa kegelapan. Ini sangat jauh bertolak belakang dengan statement "sastra dan keindahan seni budaya selalu diidentifikasikan sebagai fakta dari peradaban tinggi".

Arus globalisasi tidak harus membuat kita lari dari kenyataan, budaya konsumtif rakyat indonesia dan negara-negara berkembang lainnya sudah sekian jauh tenggelam ke dalam kancah peperangan pemasaran terbuka. Bahkan kita hampir melupakan budaya produktif yang seharusnya lebih dikedepankan demi mempertahankan ciri has kebudayaan nenek moyang sendiri.

Sastra terkadang hanya dinilai sebagai hiburan di waktu luang. Kita lebih terpojokan dengan dunia feodalisme-materialistis segala sesuatunya selalu disangkut-pautkan dengan harta dan uang. Dan tentu saja menciptakan karya sastra bukan menjadi hal prioritas, karena memang sastra bukan lahan subur bagi negara yang tengah berkembang yang umumnya mengagung-agungkan riset, teknologi dan keilmuan.

Lebih parahnya lagi, umumnya masyarakat indonesia lebih bangga dengan apa yang ada pada negara lain, lebih spesifiknya negara-negara barat (Eropa dan Amerika). Bukan hanya mengikuti style berpakaian dan hidup mewah, tetapi terlebih segala wacana keilmuan dan kesusastraan lokal juga sudah banyak terpengaruhi.

Dan kesusastraan sendiri bukan dianggap bagian dari peradaban modern. Lagi-lagi kesusastraan tersingkirkan oleh jaringan bisnis dan hal-hal yang bersangkutan dengan materi. Sedangkan tata bahasa, sopan-santun dan keindahan entah berada pada urutan prioritas kelas berapa?

Dan jika kita menyimak lebih lanjut pada kesusastraan Masisir, mudah-mudahan coretan-coretan ini bisa sedikit mendiagnosa kevakuman yang sekarang kita hadapi. Pekerja-pekerja sastra dan geliat parsial terputus mereka membuat kita kembali mempertanyakan eksistensi kesusastraan masisir, baik secara individu maupun komunal. Terhitung dari tahun 2004 hingga pertengahan 2007 ini, buku sastra tidak banyak dicetak dan dipasarkan di kalangan masisir. Dalam catatan saya tidak lebih dari empat buku saja yang berusaha tampil prima namun kandas lesu di pangkalan-pangkalan berkumpulnya mahasiswa. Entah itu di warung-warung makan, warnet-warnet, atau bahkan sekretariat-sekretariat.

Terlepas dari kualitas dan produktivitas masisir dalam mengembangkan kesusastraan, boleh jadi memang masisir gak doyan sama produk sastra karena prioritas kedatangan ke negri kinanah ini bukan untuk membuat novel, cerpen dan puisi. Tetapi untuk lebih mengkaji segala wacana keilmuaan, keagamaan khususnya. Sedangkan sastra hanyalah salah satu media untuk mengeksplorasi keilmuan dan pengalaman.

Bertambahnya jumlah masisir mungkin juga salah satu penyebab kelesuan bersastra itu lebih dalam lagi. Bukan hanya karena sastra minim apresiasi, tetapi lebih ditinjau dari kerangka orientasi masisir yang berubah dari orientasi ke-nasionalan menjadi ke-daerahan.

Tahun 2004 tercatat sebagai gelombang kedatangan mahasiswa indonesia terbesar pertama di negri seribu menara. Ini membuat komunitas-komunitas sastra pada skala masisir menjadi kurang diminati. Masisir lebih akrab dan hangat untuk berbincang dengan teman sedaerahnya atau sealmamaternya dan bahkan se-afiliatifnya.

Ditandai dengan kandasnya Sanggar Kinanah yang menurut saya menjadi satu-satunya wadah independen sastra sekaligus budaya masisir yang ada. Disusul kemudian oleh kelesuan KSI korda Kairo yang beberapa tahun saja berdiri tegak, terbukti dengan hanya belasan orang dari ribuan masisir yang menghadiri acara bedah buku Antologi “Melukis Sahara”. Padahal panitia bedah buku itu sendiri mengatakan sudah melakukan sosialisasi besar-besaran. Dan menjamurnya penghidupan sastra di kekeluargaan, almamater dan organisasi afiliatif atau kemasyarakatan. Sebutlah semisal Papyrusnya PCIM dan Sanggar Piramida IKBAL ini.

Entahlah, apa memang jiwa kesastrawanan itu sendiri yang selalu mencari ketentraman-kesepian sehingga mereka akhirnya merasa cukup terpuaskan untuk menghidupi kelompok-kelompok kecil yang sekarang beranjak besar dengan bertambahnya anggota? Atau memang ini hanya geliat sementara karena kejenuhan pluralisme yang nantinya akan kembali bersinergi lebih kencang.

Padahal saya yakin, mereka selalu mempertanyakan mengapa kesusastraan masisir dianggap absen. Sebetulnya mungkin lebih layak disebut "mati suri" karena ia tidak mati juga tidak hidup. Sastra masisir terpecah-pecah pada kelompok-kelompok kecil, dan terikat pula dengan aliran-aliran. Semisal FLP Mesir yang lebih konsen di sastra agamis. Sedangkan pada saat Sanggar Kinanah jayapun, sastra masisir masih minim apresiasi. Apalagi kalau kita terpecah menjadi kelompok-kelompok kecil?

Solusi yang saya tawarkan seperti ini. Kelompok-kelompok sastra yang ada tetap kita kembangkan sedemikian rupa, hingga penghabisan potensi. Tetapi kita juga perlu menghidupkan Wadah Sastra baru yang independen dan terbuka. Proyek ini harus ditangani secara serius dan bersama-sama. Jika kita tidak ingin sastra masisir berlama-lama di alam mimpi, sebaiknya hindari memarginalkan kelompok terkecil apapun dari bahtera masisir ini. Buang jauh-jauh pemilahan aliran kesusastraan dan junjung pluralitas setinggi-tingginya.

Langkah perdana mungkin bisa berbentuk kolaborasi karya sastra dari kelompok-kelompok kecil itu yang nantinya dibukukan dan dipasarkan pada seluruh masisir, bisa berupa antologi cerpen dan puisi. Atau bisa juga dengan mengadakan kolaborasi pegelaran sastra untuk menghangatkan kembali kesusastraan yang sedang mati suri itu.

Sebenarnya saya sendiri yakin, masisir tidak miskin potensi kesusastraan, masih banyak catatan-catatan tercecer di gedung-gedung kubus padang pasir ini. Sayangnya belum sempat terangkat, bukankah sastrawan itu biasanya malu-malu dan merendah diri? Tetapi kita juga perlu survive untuk unjuk gigi, bahwa masisir tidak miskin kesusastraan.

Dan lagi-lagi saya optimis, akan ada tokoh-tokoh penulis karya best seller alumnus masisir seperti Kang Abik dan Teh Ika Yunia yang lain. Maka, mari kita mulai sekarang juga untuk berkarya dan terus berkarya. Alam bumi para nabi ini bukankah sangat menarik untuk dieksplorasi sedalam mungkin. Dan juga kita lebih leluasa melukiskan dan membandingkan hal-hal yang unik dari tanah air kita dengan negara menara-menara ini.

Suhu yang beku ini harus segera kita hangatkan, ayo tambah lagi kayu bakarnya. Bakar! Bakar! Bakar! Cairkan bongkahan-bongkahan es itu!

Akhirnya, tiada tiada gading yang tak retak. Dan manusia itu sendiri bukanlah mahluk yang bisa mencapai tingkat kesempurnaan. Wallâhu a'lam.

*) mahluk doyan puisi.


Dicatat oleh Unknown, Jam 4:59 PM |    




Dikirim 13.9.07    
Tarawih Tour #1 (1 Ramadhan 1428 H) 

Hanya Sebuah Catatan Ringan

Seharusnya hari ini saya bisa mengunjungi Masjid Imam Syafe'i yang terletak di daerah Sayedah 'Aisyah, tepat di jantung Kota Kairo. Berdekatan dengan Benteng Shalahuddin. Jika anda menyisir beberapa daerah di Mesir ini, maka sangat Familier sekali ruas jalan "Shalah Salim" yang bermula dari Benteng Shalahuddin yang biasa disebut "Qal'ah" oleh masyarakat sekitar. Tapi ah, biarlah ia mengalir dengan sendirinya. apa yang harus dikedepankan dan apa yang harus diakhirkan. Karena hidup ini adalah pilihan, selalu harus bisa memilah dan memilih. menyusun prioritas-prioritas.Tidak mesti yang dijadwalkan lebih awal harus kita kerjakan lebih awal juga, tetapi terkadang kita dituntut untuk mengedepankan hal-hal yang lebih urgen yang bisa jadi insidensial. bahkan acap kali harus mengorbankan jadwal-jadwal itu karena dinilai tidak memiliki kompetensi kepentingan yang cukup tinggi dibanding acara dadakan itu.

Suasana Ramadhan memang sudah terasa dari seminggu yang lalu, kebisingan-kebisingan itu sudah mulai ditinggalkan Masyarakat Mesir. Jauh berbeda dengan kebiasaan di kota kecil tempat kelahiran saya (Malingping). di Malingping dan kawasan lain di tanah air juga saya kira, sangat terbiasa -jika tidak ingin disebut sebagai budaya- mengisi penyambutan Ramadhan dengan Acara "Munggahan" mungkin diambil dari Bulan sebelum Ramadhan yang biasa kami panggil dengan Bulan "Munggah". Lebih banyaknya mengisi Munggahan dengan "Plesiran" ke Pantai-pantai di jalur Selatan Banten. Biasanya ramai sekali, hampir seramai Hari Iedul Fitri. ada pantai Binuangeun, Bageudur, Talanca, yang jaraknya 4-27 KM dari titik tolak Terminal Malingping ke arah barat. Sedangkan yang lainnya ada pula yang memadati Pantai Suka Hujan, Pasir Putih, Karang Song-Song, Karang Taraje dan beberapa pantai lainya yang berada di sebelah timur Terminal yang sudah hampir 11 tahun berdiri dan sepi itu.

Sudah sekitar satu minggu yang lalu saya dan teman-teman se-Mantiqah (pemukiman) menjadwalkan Tarawih Tour. Memang tidak terlalu sulit untuk menjadwalkan Tarawih Tour ini, karena di Mesir banyak sekali Masjid. Hampir setiap radius 100 Meter, makanya Mesir dikenal juga dengan nama "Negri Seribu Menara". Kami memilih malam-malam ganjil untuk berkeliling ke Mesjid-mesjid yang sekiranya penting untuk diziarahi. Jadinya, terpilihlah 15 Mesjid yang ditargetkan. Di antaranya Mesjid Imam Syafe'i, Mesjid Al-azhar, Mesjid Husein, Mesjid Rab'ah Adawea, Mesjid Amr Bin Ash, dan beberapa Mesjid sekitar pemukiman kami.

Tapi fakta tidak harus sesuai rencana. Keluarga Mahasiswa Banten (KMB) Mesir kedatangan dua orang tamu beserta keluarga. Tamu itu bisa jadi tamu agung, karena memang sangat diharapkan dan tak disangka kedatangannnya. Adalah Bapak Agus Fuji, ketua Panitia Anggaran Legislatif Provinsi Banten dan Bapak Mas'a Toyyib, juga sebagai Dewan Legislatif Devisi IV Provinsi Banten sekaligus Senior kami; karena beliau sempat meminum air sungai Nil selama 7 tahun. Mereka transit di Kairo, dalam perjalanan Menjalankan Ibadah Umrah ke Tanah Suci.

Sudah sekian lama KMB memperjuangkan Pengayaan Wisma Daerah, yang ditelurkan oleh Bapak Bachtiar Aly, sebagai Duta Besar RI untuk Mesir pada saat itu. Yaitu terhitung dimulai pada awal tahun 2003. Entah karena memang kami yang tidak tahu birokrasi atau memang Pengayaan Wisma Daerah di Mesir untuk Provinsi Banten dinilai belum terhitung penting. Yang jelas, sampai saat tulisan ini ditulis Pengayaan Wisma Daerah untuk KMB belum sempat direalisasikan.

Adalah hari ini, titik terang itu mulai terlihat; Semoga. Kami berdialog lumayan panjang dalam waktu sempit Mereka. Sekitar kurang lebih tiga jam bertukar informasi. Pak Mas'a dalam pemaparannya berkali-kali mengajak kami untuk segera menyelesaikan jenjang pendidikan di sini dan segera pulang ke Kampung halaman alih-alih berlama-lama dengan mencari penghidupan di negri orang; karena menurut beliau Banten sangat membutuhkan tenaga-tenaga yang bersinergi untuk Pengembangan Daerah. Sedangkan Pak Fuji memaparkan Gambaran Provinsi Banten ke depan; dengan segala pembangunan dan seluk beluk birokrasi kepemerintahan. dan kami -melalui Dewan Pengurus- memaparkan kegiatan dan keadaan KMB saat ini.

Adalah saya, yang baru saja ditugasi untuk "Mengepalai" Pengayaan Rumah Daerah tersebut. jadi tentu saja segala kepentingan pribadi harus segera dienyahkan dari isi batok kepala ini. segera membatalkan Tarawih Tour untuk puasa perdana ini. Pertemuan itu lebih penting, karena menyangkut banyak orang. Lalu langsung saja, untuk langkah pertama adalah memangkas rambut yang sudah setahun ini dipelihara; tapi sebenarnya bukan hanya untuk alasan karena menemui mereka, tetapi juga ada beberapa alasan lain untuk memangkas rambut. Menghadapi Ramadhan juga termasuk salah satu alasan untuk itu.

Saya lebih kerasan untuk memanjangkan rambut. padahal terkesan Bader dan ugal-ugalan. entahlah, mungkin karena malas untuk rutin memangkasnya setiap bulan misalnya. disamping Warung-warung pangkas rabut di Mesir ini kurang begitu doyan dengan model pangkasan rambut Asia. dan tentu saja saya agak sedikit ogah kalau harus mengikuti model yang terasa "katro" untuk model potongan Pria Mesir yang Monoton. Sebenarnya bisa sih minta pangkasin rambut ke teman. tapi terlalu banyak merepotkan juga terasa sungkan.

Akhirnya Malam itu pula harus segera merampungkan Proposal Pengayaan Rumah Daerah. Mengumpulkan data yang diperlukan, contek sana-sini. Hingga tembus ke hari selanjutnya dan hanya sempat tidur 2 jam saja. Pagi hari ini kami menemui kedua Tamu itu di Hotel tempat mereka menginap di daerah Ma'adi. Setelah berbincang secukupnya, kami mengakhiri pertemuan singkat itu dan kembali ke sekretariat sewaan, tempat saya menulis ini. Dengan mata terkantuk-kantuk. Semoga "Titik Terang" yang kami mimpikan bisa segera terealisasikan, Amien.

Perjalanan Tarawih Tour jangan sampai terhenti, saya berbicara sendiri. dan kebetulan sebutlah Parjo (Nama panggilan) menghubungi saya lewat Ponsel malam itu, saat saya dan teman-teman Panitia menggarap Proposal. ini mungkin rangkuman pembicaraan saya dengan dia :

Saya (S) : "Assalamu'alaikum; ada apa jo?"
Parjo (P) : "Wa'alaikumussalam; eh gi (panggilan saya) di mana lo?"
S : "Gua di KMB, da apa jo?"
P : "Kagak, itu gimana acara besok jadi kan?"
S : "Weleh, kok besok? kan harusnya malem ini"
P : "Lah, bukannya kata lo' kita mulainya awal Ramadhan?"
S : "iya, kan malem ini awal Ramadhan jo. Tarawih Pertama. Kalau hitungan Hijriah kan dimulai dari Magrib lagi; bukannya Pagi"
P : "ya.. kirain Gw mulainya besok"
S : "iya, sory deh jo. gw juga kebulan tadi gak bisa en gak sempet ngasih kabar. di KMB ada tamu, Dewan Provinsi Banten. jadi gw kudu garap Proposal dulu deh malem ini"
P : "ya udah, kapan balik lo?"
S : "Besok paling.."
P : "ya udah deh, o, ya ntar tolong bawain hardisk si lativi dong di KMB"
S : "ya udah sip"
P : "trus, besok gimana"
S : "kita ngambil tanggal ganjil aja deh jo. berarti besok lusa aja ke Mesjid Imam Syafi'i"
P : "o, ya udah.. makanya lo balik dulu"
S : "Ok! sip, Insya Allah besok Gw pulang"

Ah, semoga malem ke-tiga tidak ada hambatan. Semoga !
Terima kasih untuk yang sempat kirim sms ucapan Ramadhan, Mohon ma'af belum sempat membalasnya. Asep Hideung; Neng Dudun; Keluarga Pak Hilman di Rab'ah. Semoga Ramadhan tahun ini lebih bisa bersinergi. Semoga !


Dicatat oleh Unknown, Jam 3:38 PM |