<body topmargin="0" bottommargin="0" leftmargin="0" rightmargin="0"><script type="text/javascript"> function setAttributeOnload(object, attribute, val) { if(window.addEventListener) { window.addEventListener('load', function(){ object[attribute] = val; }, false); } else { window.attachEvent('onload', function(){ object[attribute] = val; }); } } </script> <div id="navbar-iframe-container"></div> <script type="text/javascript" src="https://apis.google.com/js/platform.js"></script> <script type="text/javascript"> gapi.load("gapi.iframes:gapi.iframes.style.bubble", function() { if (gapi.iframes && gapi.iframes.getContext) { gapi.iframes.getContext().openChild({ url: 'https://www.blogger.com/navbar/5503041?origin\x3dhttp://catatansangkakala.blogspot.com', where: document.getElementById("navbar-iframe-container"), id: "navbar-iframe" }); } }); </script>

Dikirim 18.9.07    
Tarawih Tour #2 (3-4 Ramadhan 1428 H) 

Hanya Sebuah Catatan Ringan

Mengejar apa yang kita impikan harus melulu membutuhkan perjuangan dan pengorbanan. Sangat jarang sekali mimpi didapatkan dengan mudah, sekalipun ada kepuasannya tidak sempurna. Ambilah sebuah contoh, hari ini saya memimpikan punya pesawat pribadi yang kapan saja saya mau bepergian tidak usah lagi direpotkan dengan waiting list. kemudian datanglah si dermawan memberikan pesawat itu. Tentu saja kepuasannya jauh berbeda dengan ketika saya berjuang sendiri mendapatkan apa yang diimpikan itu dengan selaksa perjuangan dan pengorbanan.

Setelah jadwal Tarawih Tour #1 yang ternyata terbentur dengan agenda lain, kami menyiasati konsistensi jadwal dengan mengundurkan Target Mesjid Imam Syafi'i ke Tanggal 3 Ramadhan yang seharuskan di Mesjid Al-azhar. Sebelum berangkat, ada beberapa pertimbangan yang harus difikirkan. Opsi Pertama, Berangkat lebih awal mengingat jarak dari Mantiqah (Pemukiman) kami ke Mesjid Imam Syafi'i menghabiskan waktu kurang lebih 45-75 Menit. Opsi Ke-dua, Berangkat setelah berbuka puasa mengingat akan susah mencari makanan pembuka di sekitar Mesjid. Karena yang saya bayangkan (Pengalaman berkunjung 3 tahun lalu) pemukiman di Sekitar Mesjid Imam Syafi'i masih tergolong Kampung, walaupun tidak terlalu jauh dari pusat kota.

Setelah berfikir berulang kali, akhirnya kami memutuskan memilih opsi ke-dua. Seharusnya ketika memilih opsi ke-dua ini, tidak menghabiskan waktu banyak untuk berbuka. Karena harus segera mengejar Tarawih. Tapi apa mau dikata, keterlambatan pun terjadi. Terutama untuk Antri mandi. Setidaknya 40 Menitan hanya untuk alokasi mandi. Hingga menjelang Isya baru bisa berangkat dari Mantiqah. dan tentu saja terlambat. Memasuki Tarawih Rakaat ke-3 sampailah di tempat tujuan.

Sebenarnya sudah dari awal Masuk ke Mesjid, perasaan saya mengatakan ini bukan Mesjid Imam Syafi'i. Tapi karena si Sopir Angkot mengatakan ini Mesjid Imam Syafi'i dan di tambah lagi bangunan Mesjid itu baru saja direnovasi dan tentu saja mengaburkan memori 3 tahun lalu ketika saya sempat diajak berkunjung oleh Salah seorang Senior. Masuklah kami ke mesjid itu. dan menyelesaikan Shalat Tarawih yang kemudian kami susul dengan Shalat Isya.

Dengan hati penasaran kami pun bertanya kepada Masyarakat sekitar sana. Benar saja, Mesjid Imam Syafi'i yang asli sekitar 100 Meter dari tempat kami Tarawih. Ternyata Rute Trayek Angkot sudah berubah, dulu Anggot berhenti tepat di depan gerbang Mesjid Imam Syafi'i. Sekarang sudah dipindahkan agak ke luar. itupun tidak ada lagi Pangkalan Angkot, hanya Jalan sempit yang dipadati lalu-lalang kendaraan Umum.

Agak sedikit mendongkol sebenarnya, tapi itu sudah terjadi. Mau-tidak mau besoknya harus kembali ke sana, karena jika menunggu tanggal ganjil lagi (5 Ramadhan) maka harus mengorbankan 2 Target Mesjid yang lain.

4 Ramadhan

Belajar dari pengalaman (Try and Error), itu mungkin jargon yang membuat kami berangkat lebih awal. Satu jam sebelum Maghrib tiba, sudah bertolak dari Mantiqah. Dihantar oleh pak Sopir Taksi, karena tidak ada Mobil Angkutan dari dan ke pemukiman. Kecuali jika ada Bus yang lewat. Kebetulan Mantiqah Kami dekat dengan Pangkalan Bus Kota Pemerintah yang datang untuk mengisi Bahan Bakar Gas.

Tidak terlalu lama menanti, ada Mini Bus Jurusan Sayedah 'Aisyah yang ditunggu.

"Sayedah 'Aisyah ya 'Ammu?" ("Ke Sayidah 'Aisyah, Paman?")

Pak Sopir tua lantas mengangguk mengiakan. Sedikit berlari kami menaiki Mini Bus itu, padahal sedang menunggu 'tukang' Kios untuk membayar Air Mineral dan Makanan Pembuka. Persediaan saja, takut berbuka di jalan. Akhirnya tidak jadi membeli persiapan berbuka, dan lagi Insya Allah tidak sampai kemaghriban di jalan.

Lagi-lagi perasaan saya terasa kurang sreg berada di dalam Mini Bus itu. Karena Mini Bus ke Sayedah dari Hay 'Asyir harusnya bernomer 45, ini bukan. Tapi biarlah, mungkin ada Mini Bus Nomer lain yang juga Jurusan Sayedah 'Aisyah. Toh di depan kaca Mobil itu tertulis pula Sayedah 'Aisyah.

Ah, Benar saja. Ternyata Mini Bus itu tidak langsung ke Sayedah 'Aisyah. Tetapi memutar dulu ke Arah Tahrir. Biarlah, sekalian Shalat Maghrib di sana. Beberapa Kilo Meter lagi sampai ke Tahrir, terdengar suara besi patah dari bawah Mesin kendaraan yang kami tumpangi. Lagi-lagi Musibah terjadi, kami tidak bisa melanjutkan perjalanan dengan Mini Bus itu. Mogok, mungkin Tongkat persenelengnya patah.

Terpaksa mencari Angkot Jurusan Tahrir atau Ramsis, Terminal paling dekat dari sana. Tapi sebelumnya kami sempat 'adu mulut' dengan bapak Sopir Mini Bus.

"Paman, kami tidak terima diperlakukan seperti ini"
"Kenapa? Ma'af, ini kan musibah" saut pria setengah baya itu.
"Bukan masalah itu paman, mengapa paman mengiyakan ketika kami tanya "Ke Sayedah 'Aisyah?"" saya menimpali, agak sedikit ngotot.

Hampir seperempat jam adu argumentasi. Alasan beliau, karena tidak mendengar dengan jelas apa yang kami tanyakan sebelum menaiki Mini Bus itu. Sebenarnya dia baru keluar dari garasi Perusahaan Angkutan, jadi walaupun di kaca Kendaraan tertulis Sayedah 'Aisyah, tapi dia harus ke Tahrir terlebih dahulu. Tetap saja kami kesal, kalau memang tak mendengar mengapa mengiakan? Seharusnya dia bertanya dahulu. Dan kesalahan Beliau yang ke-dua, tidak memberikan kami karcis tanda pembayaran; Dengan alasan ini kami sempat mengancam mengadukannya ke Perusahaan Angkutan yang tertulis besar di Body Mini Bus itu. Sebenarnya tidak tega mengancam, tapi biarlah untuk pembelajaran supaya tidak berlaku curang lagi.

Mesjid Yang Kurang Terawat

Alangkah terenyuhnya hati ini. Sampah berserakan di sekitar halaman Mesjid. Sangat jauh dikatakan terawat. Mungkin karena berada di perkampungan, ditambah lagi di sekitar Mesjid itu banyak sekali Pedagang Kali lima dan Toko-toko kecil. Bahkan tepat di depan gerbang Mesjid, Cafe Syisya -Rokok Arab yang biasa dihisap dengan selang yang kurang lebih 1 Meter panjangnya- mendominasi Los-los ruas jalan kecil itu. Saya membayangkan, mungkin di dalam Mesjid juga sama tidak terawatnya. Ternyata tidak, Ruangan Mesjid sebelah dalam tampak bersih dan bercahaya.

Itu mungkin kesan pertama melihat Mesjid Imam Syafi'i di daerah Sayedah 'Aisyah, Kairo. Sebelumnya, setelah 'adu argumentasi' dengan Sopir Mini Bus -hingga memaksa kami untuk berbuka di jalan-, tak lama kemudian melintas Angkot Jurusan Terminal Ramsis. Tanpa ragu lagi kami stop. Membeli makanan sekedar mengganjal perut dan Shalat Maghrib di Mesjid Ramsis, tepat di depan Bank Misr di bahu Jalan Raya. Tanpa kesusahan kami berangkat ke Sayedah 'Aisyah, mungkin bisa dikatakan Terminal Ramsis adalah pusat Transportasi. Bus Jurusan mana pun ada. Hingga ke Luar Kota. Bahkan Kereta Api.

"Gila, gi (panggilan saya) ini Mesjid apaan? gede banget!"
"Oh, ini kayaknya Mesjid Rifa'i deh. Coba tanyain ke Orang Mesir yang di samping lo!"

Setelah ditanyakan, tak jauh dari perkiraan. Perjalanan dari Terminal Ramsis ke Sayedah 'Aisyah dengan Angkot yang kami tumpangi memang melalui dua Mesjid yang berdampingan [Mesjid Rifa'i (dibangun antara tahun 1356-1363 oleh seorang Wanita, Yaitu Ratu Dowager Khushyar) dan Mesjid Sultan Hassan]. Juga tak jauh dari Kedua Mesjid yang seakan 'Berteman' itu, berdiri dengan megahnya Mesjid Muhammad Ali (dibangun tahun 1830 oleh arsitektur Yunani bernama Youssef Bochna) yang dulunya tidak hanya Berfungsi sebagai tempat Ibadah, tetapi dipergunakan juga sebagai Pengadilan. Sekarang hanya jadi Musium tempat Pelancong berpariwisata.

"ayo gi, kenapa berhenti di sini?"
"bentar ah, gw mo nyogar (Merokok) dulu nih. Nyampe sono kaga' enak bego, nyogar pasti diliatin lo!"

itu mungkin sedikit perbincangan, sebelum akhirnya menaiki Angkot yang memboyong kami dari Sayedah 'Aisyah ke Halte Imam Syafi'i.

Dering Ponsel Mengganggu Konsentrasi

Setelah Adzan berkumandang, Masyarakat berdatangan untuk Shalat Isya dan Tarawih. Sangat padat, mungkin ada juga yang tidak kebagian tempat dan terpaksa Shalat di pelataran Mesjid. Rupanya Nama Imam Syafi'i masih harum hingga saat ini. Padahal beliau dilahirkan sekitar 13 Abad yang lalu, tepatnya tahun 150 H.

Shalat Isya Berjama'ah diawali dengan Iqamah. Ada satu has di Mesjid ini yang sangat mirip dengan budaya Indonesia, Yaitu cara Mengucapkan kata 'Amien' pada akhir pelapalan 'Ummul Qur'an'. Jeda yang pas dengan 'Getaran' hati Indonesia saya. Sangat sulit di dapatkan di Mesjid lain di Mesir. Membuat saya harus rela sedikit terharu, mengingat 2 tahun sudah tidak berjama'ah Tarawih di Tanah kelahiran dan bisa jadi 2 Iedul Fitri juga tidak sempat bertatap muka dengan Keluarga. Kemudian dilanjutkan dengan Shalat Tarawih.

Dering Ponsel. Padahal sudah sangat akrab sekali kata-kata "Harap Mematikan Ponsel Di Mesjid Ini" tetapi bukan manusia namanya jika bukan menjadi tempat 'Salah dan Lupa'. Saya cukup kesal dibuatnya, Monophonic pula! Suaranya yang menggigit telinga "Bip! Bip! Bip!" sangat mengganggu ke-khusu'-an berjama'ah. Termasuk Imam. Fatalnya tidak hanya sekali, tetapi berkali-kali. Harusnya si pemilik Ponsel langsung menekan Tombol Power, tetapi tidak dilakukan; Atau mungkin memang Polsel itu tidak bertuan! Astaghfirullah, Jangan mengumpat!

Dua Rakaat Tarawih itu sudah terganggu, hanya karena Dering Ponsel. Selesai salam, Bapak Imam mengingatkan seluruh Jama'ah yang membawa Ponsel untuk mematikannya. Lalu kembali Takbiratul Ihram, Allahu Akbar! Tetapi lagi-lagi di antara Rakaat satu dan dua, nada menggigit itu kembali terdengar, sepertinya dari sumber yang sama. Sialan...!! Hati saya mengumpat. dan ternyata bukan hanya saya, mungkin sang Imam ikut pula mengumpat hingga lupa hafalan Qu'an yang sedang dia lantunkan. Membuat beberapa Ma'mum yang lain mencoba meneriaki, membantu lanjutan potongan ayat yang terputus itu.

Masalah dering Ponsel pada saat berjama'ah harusnya dianggap serius, karena bisa mengganggu ke-khusu'-an beribadah. dan tentu saja merugikan orang banyak. Apa susahnya hanya untuk menonaktifkan Ponsel? atau jika memang tidak ingin mamatikannya, cukuplah pilih 'Profile Silence' yang tidak bunyi dan tidak getar. dan jika dianggap perlu, tinggalkan sajalah Ponsel itu di rumah. dan katakan, Saya sedang sibuk 'Menghadap Allah', bukankah untuk menghadap manusia saja terkadang perlu untuk mematikan Ponsel?

Mengunjungi Makam Sang Imam

Tentu saja tujuan terpenting dari kunjungan kali ini bukan hanya ingin mengetahui dan memperbandingkan cara 'bertarawih', tetapi tujuan selanjutnya untuk berziarah. Tiga Tahun sudah, baru bisa melihat peristirahatan terakhir Sang Imam lagi. ada sebuah kekangenan yang menyelimuti hati. Ini Makam Imam besar, Saya kembali mengumpat.

"eh, gi! itu kertas-kertas sama duit buat apaan ditaro di Makam imam syafi'i?"
"gak tau, buat yang ngurusin Makam kali!"
"ye, kalo buat yang ngurusin Makan, Kenapa gak dikasih sama Pengurus Mesjid aja Sekalian; atau langsung aja tanyain, siapa yang ngurusin nih Makam!"
"bener juga yah, gak tau dah!"

Sempat saya berfikir, mungkin gak yah orang Mesir yang dianggap 'Ibunya Dunia Pendidikan Keislaman' justru malah melakukan hal-hal yang dianggap 'Khurafat'? ah, entahlah. Bisa jadi, bisa Jadi. Bukankah manusia itu lagi-lagi 'tempatnya salah dan lupa'?

Setelah berpose secukupnya, kami segera pulang. Sebenarnya masih sangat ingin berlama-lama melihat-lihat sekeliling Mesjid itu, tapi apalah daya; Memang Jam 9 Malam Mesjid ini harus segera ditutup. Kami termasuk orang yang paling terakhir keluar; itupun karena melihat lampu-lampu Mesjid satu-persatu dimatikan.

Cukup sekian dahulu cerita perjalanan Tarawih Tour #2. Terima kasih telah ikut membaca dan menyimak. Nantikan Cerita Tarawih Tour #3 yang ditargetkan di Mesjid Al-azhar.

Wassalam,
SangKaKaLa


Dicatat oleh Unknown, Jam 7:53 AM |