<body topmargin="0" bottommargin="0" leftmargin="0" rightmargin="0"><script type="text/javascript"> function setAttributeOnload(object, attribute, val) { if(window.addEventListener) { window.addEventListener('load', function(){ object[attribute] = val; }, false); } else { window.attachEvent('onload', function(){ object[attribute] = val; }); } } </script> <div id="navbar-iframe-container"></div> <script type="text/javascript" src="https://apis.google.com/js/platform.js"></script> <script type="text/javascript"> gapi.load("gapi.iframes:gapi.iframes.style.bubble", function() { if (gapi.iframes && gapi.iframes.getContext) { gapi.iframes.getContext().openChild({ url: 'https://www.blogger.com/navbar/5503041?origin\x3dhttp://catatansangkakala.blogspot.com', where: document.getElementById("navbar-iframe-container"), id: "navbar-iframe" }); } }); </script>

Dikirim 10.7.09    
OREGANO, CAFE PENUTUP! 

OREGANO, CAFE PENUTUP!
-tabir tetanya, terkuak sudah! bertemu jawabnya, lalu memilih!-


Pada babak ini, aku dan khayalan mulai menyatu dalam satu irama. Nyata, harus menentukan salah satu dari opsi yang tersedia. Dan sebelum memilih, sudah kupelajari kemungkinan konsekwensi yang akan tertuai, buah cikal pilihan itu sendiri. Aku mulai resah dengan ketidakpastian. Padahal, aku sendiri yang menciptakan ketidakpastian itu. Ah maaf, bukan aku sendirian. Melainkan, beberapa tanda berhasil kukumpulkan, dan mulai kusimpulkan jadi “ketidakpastian” itu. Ketidakpastian akan hal paling misterius dalam perjalanan hidup manusia! Kadang berupa “Jodoh,” kadang berupa “Rizki,” dan kadang berupa “Maut.”

Sembilan purnama sudah, kudatangi kau dengan ratusan kemungkinan. Tertatih-tatih sudah aku menyapamu dengan berbagai cara. Dari yang paling heroik, hingga yang paling bodoh! Dan kau tahu sudah, seperti apa jalan pikiranku. Juga seperti apa aku berperilaku.

Kemungkinan besar, kau terkaget-kaget oleh kedatanganku yang tiba-tiba saja merapat bagai kapal tanpa kelakson, bagai ambulan tanpa sirine, bagai hujan tanpa mendung. Karena kau, tak sadar aku ingin sekali mengenalmu lebih dekat, semenjak perjumpaan pertama kita. Jika di sebuah perjalanan kau bertanya mengapa aku melakukan hal yang paling misterius dalam sejarah perjalanan manusia, maka jawabannya adalah karena aku memujamu! Aku mengagumimu pada pandanganku yang pertama. Sejak belia kala, sejak kita belum mampu mengeja makna “Cinta!”

Maka, pada umurku yang hampir seperempat abad ini, telah cukup keberanian kukumpulkan dan kesempatan kudapatkan dari temu-kencan, canda-tawa, dan kabar-mengabari. Kau tahu, apa yang sudah kuupayakan.

Genap sudah pertanyaan paling misterius dalam sepanjang sejarah hidupku. Pupus sudah kesangsian atas dirimu. Dan sekarang kita sama-sama tahu apa yang ada pada diri kita. Apa yang ada pada dirimu, apa yang ada pada diriku. Tidak ada lagi yang perlu dipertanyakan. Aku rasa, sekaranglah saatnya untuk menentukan pilihan, dan mempersiapkan kehadiran segala konsekwensi dari pilihan itu.

Sampai, dan atau Tidak! Menurutku, bukanlah menjadi bagian paling fundamental pada pemaknaan sebuah cita-cita. Tidak menjadi hal paling penting dalam meterasi sebuah keberhasilan. Layaknya selembar Ijazah, tidak menjadi tolak ukur kemampuan seseorang atas apa yang tertera di dalamnya. Aku menganggap, terma “berproses” itu sendiri yang paling penting untuk diapresiasi. Dijadikan barometer atas sebuah “keberhasilan.” Karena pangkat jendral seseorang dan orang lain, mungkin saja sama dan setara. Tetapi sudah menjadi kesepakatan bersama, prosesi menuju “kejendralan” seseorang dengan orang lain, tentu saja berbeda!

Seperti inilah aku membaca kehidupan. Puas sudah aku bisa mengenalmu lebih jauh. Dari tutur kata, hingga caramu memperhatikanku. Caramu bekerja, dan caramu berleha-leha. Terjawab sudah pertanyaanku selama ini atas dirimu. Sirna sudah, catatan “PR” dalam dinding hatiku. Dan hilang sudah keinginanku untuk memperkenalkan, siapa aku kepadamu. Karena, aku yakin kau tahu siapa aku. Dan inilah bab yang paling sempurna dalam desertasi dan proyeksi misteriku atas dirimu.

Saat kau membaca catatan ini, aku dalam perjalan pulang ke tanah kelahiranku. Aku bertekad memperbaharui niat. Menutup segala kisah tentang pertanyaan-pertanyaan paling misterius sepanjang sejarah hidupku. Lengkap sudah, dan aku tahu jawabannya dari pesan singkatmu. Seperti apa caramu memilih keputusan. Dan kita sudah mengenal satu sama lain. Memilih, dan memberikan jawabannya. Mempersiapkan konsekwensi apapun yang terjadi dibalik historia tentang cerita kita.

Semoga saja, ini jalan yang terbaik! Dan marilah bersama-sama kita ucapkan, “Selamat datang catatan baru!” dan segala apa yang sudah terjadi, mudah-mudahan mendewasakan kita akan pemaknaan dan penghayatan hidup.

Kau, baik-baik di kampung orang! Aku turut berdo’a untuk keberhasilan apapun yang sedang kamu rencanakan. Semoga semuanya tercapai sesuai harapan. Amien!

Kau, tahu? Aku mencatat semua ini, di café yang pernah kita kunjungi bersama seorang teman yang sekarang pulang ke Kalimantan. Teman karibmu, juga tetangga kosanku! Aku berkostum hitam, dari Helm, hingga sandal. Memesan secangkir kopi pahit, segelas jus alpukat, segelas jus mangga, dan sepiring nasi goreng bali! Jelentik nada piano sayup-sayup kudengar berlarian dari pengeras suara! Ah, sempurna sekali rasanya makan malamku saat ini! Sesempurna catatanku, aku rasa! Puji syukur, Tuhan!

Beberapa hari ke depan, menjadi hari-hari yang paling sulit bagiku untuk membiasakan diri tanpamu ada di benak ini. Mungkin juga kamu. Biarkan ia berjalan seperti itu, seperti apa adanya. Merubah kebiasaan ke kebiasaan yang lain, selalu membutuhkan masa transisi. Ada beberapa keterikatan yang perlahan mesti belajar kulepaskan. Mungkin juga kamu. Bersamaan dengan berjalannya waktu, itu semua akan berganti dengan perasaan yang baru. Dan seperti itu, seterusnya!

Satu bulan lagi, hari ulang-tahunku. Tolong kau simpan saja rapat-rapat apa yang ingin kau katakan di hari itu (seandainya ada yang ingin kau katakan). Biarkan aku belajar menjadi diriku sendiri. Itu membuatku lebih mudah dan lebih cepat mengendalikan kembali keadaan psikologi ke keadaan semula. Ke kondisi netral. Mungkin kamu juga!

Terima kasih, atas segala yang telah kau berikan! Dan terima kasih, kau meluangkan waktu untuk membaca catatan ini. Dan mohon maaf, atas segala kekhilafanku!


Salam,
SangKaKaLa

Oregano, 17 Juni 2009 M.
Pukul, 19:59 – 21-49 WIB.




Dicatat oleh Unknown, Jam 6:44 AM |