<body topmargin="0" bottommargin="0" leftmargin="0" rightmargin="0"><script type="text/javascript"> function setAttributeOnload(object, attribute, val) { if(window.addEventListener) { window.addEventListener('load', function(){ object[attribute] = val; }, false); } else { window.attachEvent('onload', function(){ object[attribute] = val; }); } } </script> <div id="navbar-iframe-container"></div> <script type="text/javascript" src="https://apis.google.com/js/platform.js"></script> <script type="text/javascript"> gapi.load("gapi.iframes:gapi.iframes.style.bubble", function() { if (gapi.iframes && gapi.iframes.getContext) { gapi.iframes.getContext().openChild({ url: 'https://www.blogger.com/navbar/5503041?origin\x3dhttp://catatansangkakala.blogspot.com', where: document.getElementById("navbar-iframe-container"), id: "navbar-iframe" }); } }); </script>

Dikirim 13.3.11    
MEREKA TAHU SOLUSINYA 

Enam tahun sudah, saudara-saudaraku di Banten Selatan melambat langkah. Bawa hasil-hasil alam dari tani, kebun, laut, sampai tambang dengan susah payah. Mereka sadar, negeri ini tidak punya cukup biaya untuk sekedar memperbaiki jalan.

Pengurus-pengurus pemerintah entah sudah berapa kali berganti. Dan harapan perbaikan jalan sudah pasang-surut layaknya ombak Bageudur yang tiada duanya di tanah Sultan Hasnuddin ini. Setiap pemilihan Dewan yang mewakili di kursi parlemen kabupaten, propinsi, nasional mereka titipkan selalu apa yang menjadi keluh-kesah. Jalan, irigasi, serta infrastruktur yang lebih baik.

Tapi lagi-lagi, sabar menjadi kata sakti. Hari ini bahkan sudah menjadi zimat. Mereka sadar, mereka sendiri yang membuatnya seperti itu. Bawa beban berlebih. Ongkos kirim melejit naik, ah tak perduli. Toh masih laku walaupun dengan perhitungan yang janggal. Belum lagi Bahan Bakar Minyak tidak tentu harga. Yang pasti sih, selalu naik.

Tindak-laku mulai tak tentu, lagi-lagi entah. Mereka tidak tahu apa yang harus dilakukan. Yang pasti sudah tidak lagi berharap. Sabar tidak menjadi kata sakti lagi. Zimat juga tidak. Mungkin sekarang sabar berarti hilang. Hilang dari kamus kehidupan.

Berkebun, beternak, dan bertani. Terus seperti itu. Mereka harap, suatu hari nanti bisa membeli kendaraan bermotor. Ya, kendaraan bermotor yang gagah. Seperti di sinetron-sinetron. Bahkan rumah yang megah, pakaian yang mewah. Atau? Oh, ya. Mereka ingin pelesir ke luar negeri. Melihat-lihat Pyramida Mesir kuno, prajurit Dinasti Ming yang hebat, lukisan-lukisan Da Vinci, kincir angin negeri jeruk, kereta tanpa rel negeri Nazi, bahkan Ka’bah. Ya, Ka’bah. Pusat kiblat seluruh dunia ketika shalat.

Hitung. Hasil panen dihitung. Nyatanya, ongkos produksi lebih besar dari satuan harga hasil alam yang mereka olah. Sebab pupuk subsidi susah ditemukan. Kalau pun ada, harganya tidak seperti tayangan iklan layanan masyarakat di layar kaca.

Sabar, tumbuh kembali menjadi kata sakti. Tidak ada pilihan lain. Berkebun, bertani, dan beternak yang bisa mereka lakukan. Mau berdagang tidak cukup modal. Belum lagi pesaing sekelas toko retail gaya ibukota yang bersih, ber AC, menyala terang, pakai komputer yang canggih. Wuih. Melihat saingan seperti itu saja bikin berdiri seluruh bulu kuduk.

Kemudian hari, yang mereka harapkan adalah sebuah keajaiban. Ya, keajaiban. Seperti di film-film. Mencari uang itu mudah. Tinggal datang ke orang pintar. Mereka pasti tahu solusinya.

Polotot, 23 Februari 2011.


Dicatat oleh Unknown, Jam 11:06 AM |