<body topmargin="0" bottommargin="0" leftmargin="0" rightmargin="0"><script type="text/javascript"> function setAttributeOnload(object, attribute, val) { if(window.addEventListener) { window.addEventListener('load', function(){ object[attribute] = val; }, false); } else { window.attachEvent('onload', function(){ object[attribute] = val; }); } } </script> <div id="navbar-iframe-container"></div> <script type="text/javascript" src="https://apis.google.com/js/platform.js"></script> <script type="text/javascript"> gapi.load("gapi.iframes:gapi.iframes.style.bubble", function() { if (gapi.iframes && gapi.iframes.getContext) { gapi.iframes.getContext().openChild({ url: 'https://www.blogger.com/navbar/5503041?origin\x3dhttp://catatansangkakala.blogspot.com', where: document.getElementById("navbar-iframe-container"), id: "navbar-iframe" }); } }); </script>

Dikirim 11.7.11    
HIDUP, KITA, DAN PENCARIAN. 

Ada jalur, ketika bumi dipijak. Ada aturan main yang dibangun dari tarik-ulur. Ada kekuatan-kekuatan yang sedang berdampingan. Ada kepentingan-kepentingan. Kebijakan-kebijakan sudah dibuat sedemikian rupa. Dan tentu saja selalu ada pilihan dan konsekwensi. Rahasia, pripasi, hal-hal yang tidak bisa ditawar. Kalaupun ada yang menawar, sendirinya akan membeli. Sekarang, hari ini, dan atau nanti.

Di kemudian hari, jika kekuatan-kekuatan yang lebih besar menghimpit begitu sempit maka kekuatan-kekuatan kecil sebegitu rupa bersatu, berkoloni. Karena kesamaan rasa, kesamaan tekanan. Alam raya ini, sungguh menggairahkan. Selalu butuh keseimbangan. Skema luar biasa. Ada yang naik dan turun setiap waktu. Ada geliat, ada leha. Ada semangat, ada pesimis.

Kita sudah hilang dari semenjak lahir. Dan kita, terus-menerus mencari sepanjang kehidupan. Hingga di kemudian hari. Kita temukan kembali diri kita, pribadi kita, jalan kita, alur kita. Ketika segala langkah pencarian tidak bisa ditawar, tidak bisa dikembalikan ke semula-jadi. Karena kita sudah diberikan pilihan, maka yang kita dapati adalah segala bentuk konsekwensi dari pilihan itu sendiri.

Sapa-menyapa. Tegur-menegur. Caci-mencaci. Sumpah-serapah. Berdamai, menjilat. Menikam, mengajak. Turut-campur. Dan hampir tidak pernah kita temukan apa yang kita cari. Cari-cari apa saja. Bahkan kita sendiri sudah hilang dalam pencarian. Ada fase, ketika apa yang kita cari, menjadi nisbi. Menjadi kemungkinan. Dan sama sekali tidak pasti. Absurd.

Ada fatamorgana. Dan pencapaian yang kita dapati hari ini, menjadi ribuan jutaan target pencapaian berikutnya. Selalu seperti itu. Lebih banyak. Lebih banyak lagi. Padahal kita sendiri sudah hilang. Ditelan diri kita sendiri. Dicampakan begitu saja oleh diri kita sendiri. Oleh prilaku diri sendiri. Hingga pola pikir menjadi diri sendiri sejatinya malah menghilangkan diri kita sendiri. Semakin dalam.

Kesadaran, hanya datang sesekali. Dalam rehat. Dalam pelesir. Dalam senggang. Dalam kosong. Dalam diam. Dalam toilet. Dalam menghubungkan sumber-sumber –connecting variables-, dan tentu saja dalam kubur. Ya dalam kubur. Ketika tidak bisa menggapai diri kita sendiri. Ketika tidak ada lagi yang bisa diperbaiki, diralat. Dibenahi. Ditambah, diperbanyak. Dikembalikan ke semula-jadi. Terhenti, begitu saja. Di waktu yang kita sendiri tidak tahu. Di saat yang entah.

Dan, ah. Kita bahkan terlalu istimewa. Teramat istimewa. Karena kita sudah hilang semenjak lahir. Mencari, dan menemukan jawaban. Terhenti? Entahlah, hingga titik mana kita terhenti. Karena jawaban yang selalu menjadi jutaan pertanyaan baru. Bergerak, rehat, bergerak, rehat, bergerak cepat, cepat rehat, bergerak lambat, lambat rehat, bergerak cepat, rehat lambat, bergerak lambat, cepat rehat. Terhenti? Maka kita hilang. Dan kita sudah hilang dari semenjak lahir. Hingga bertemu jawaban yang entah.

Cilangkahan,
03 Juli 2011.


Dicatat oleh Unknown, Jam 11:52 AM |