Ada jalur, ketika bumi dipijak. Ada aturan main yang dibangun dari tarik-ulur. Ada kekuatan-kekuatan yang sedang berdampingan. Ada kepentingan-kepentingan. Kebijakan-kebijakan sudah dibuat sedemikian rupa. Dan tentu saja selalu ada pilihan dan konsekwensi. Rahasia, pripasi, hal-hal yang tidak bisa ditawar. Kalaupun ada yang menawar, sendirinya akan membeli. Sekarang, hari ini, dan atau nanti.
Di kemudian hari, jika kekuatan-kekuatan yang lebih besar menghimpit begitu sempit maka kekuatan-kekuatan kecil sebegitu rupa bersatu, berkoloni. Karena kesamaan rasa, kesamaan tekanan. Alam raya ini, sungguh menggairahkan. Selalu butuh keseimbangan. Skema luar biasa. Ada yang naik dan turun setiap waktu. Ada geliat, ada leha. Ada semangat, ada pesimis.
Kita sudah hilang dari semenjak lahir. Dan kita, terus-menerus mencari sepanjang kehidupan. Hingga di kemudian hari. Kita temukan kembali diri kita, pribadi kita, jalan kita, alur kita. Ketika segala langkah pencarian tidak bisa ditawar, tidak bisa dikembalikan ke semula-jadi. Karena kita sudah diberikan pilihan, maka yang kita dapati adalah segala bentuk konsekwensi dari pilihan itu sendiri.
Sapa-menyapa. Tegur-menegur. Caci-mencaci. Sumpah-serapah. Berdamai, menjilat. Menikam, mengajak. Turut-campur. Dan hampir tidak pernah kita temukan apa yang kita cari. Cari-cari apa saja. Bahkan kita sendiri sudah hilang dalam pencarian. Ada fase, ketika apa yang kita cari, menjadi nisbi. Menjadi kemungkinan. Dan sama sekali tidak pasti. Absurd.
Ada fatamorgana. Dan pencapaian yang kita dapati hari ini, menjadi ribuan jutaan target pencapaian berikutnya. Selalu seperti itu. Lebih banyak. Lebih banyak lagi. Padahal kita sendiri sudah hilang. Ditelan diri kita sendiri. Dicampakan begitu saja oleh diri kita sendiri. Oleh prilaku diri sendiri. Hingga pola pikir menjadi diri sendiri sejatinya malah menghilangkan diri kita sendiri. Semakin dalam.
Kesadaran, hanya datang sesekali. Dalam rehat. Dalam pelesir. Dalam senggang. Dalam kosong. Dalam diam. Dalam toilet. Dalam menghubungkan sumber-sumber –connecting variables-, dan tentu saja dalam kubur. Ya dalam kubur. Ketika tidak bisa menggapai diri kita sendiri. Ketika tidak ada lagi yang bisa diperbaiki, diralat. Dibenahi. Ditambah, diperbanyak. Dikembalikan ke semula-jadi. Terhenti, begitu saja. Di waktu yang kita sendiri tidak tahu. Di saat yang entah.
Dan, ah. Kita bahkan terlalu istimewa. Teramat istimewa. Karena kita sudah hilang semenjak lahir. Mencari, dan menemukan jawaban. Terhenti? Entahlah, hingga titik mana kita terhenti. Karena jawaban yang selalu menjadi jutaan pertanyaan baru. Bergerak, rehat, bergerak, rehat, bergerak cepat, cepat rehat, bergerak lambat, lambat rehat, bergerak cepat, rehat lambat, bergerak lambat, cepat rehat. Terhenti? Maka kita hilang. Dan kita sudah hilang dari semenjak lahir. Hingga bertemu jawaban yang entah.
Enam tahun sudah, saudara-saudaraku di Banten Selatan melambat langkah. Bawa hasil-hasil alam dari tani, kebun, laut, sampai tambang dengan susah payah. Mereka sadar, negeri ini tidak punya cukup biaya untuk sekedar memperbaiki jalan.
Pengurus-pengurus pemerintah entah sudah berapa kali berganti. Dan harapan perbaikan jalan sudah pasang-surut layaknya ombak Bageudur yang tiada duanya di tanah Sultan Hasnuddin ini. Setiap pemilihan Dewan yang mewakili di kursi parlemen kabupaten, propinsi, nasional mereka titipkan selalu apa yang menjadi keluh-kesah. Jalan, irigasi, serta infrastruktur yang lebih baik.
Tapi lagi-lagi, sabar menjadi kata sakti. Hari ini bahkan sudah menjadi zimat. Mereka sadar, mereka sendiri yang membuatnya seperti itu. Bawa beban berlebih. Ongkos kirim melejit naik, ah tak perduli. Toh masih laku walaupun dengan perhitungan yang janggal. Belum lagi Bahan Bakar Minyak tidak tentu harga. Yang pasti sih, selalu naik. Tindak-laku mulai tak tentu, lagi-lagi entah. Mereka tidak tahu apa yang harus dilakukan. Yang pasti sudah tidak lagi berharap. Sabar tidak menjadi kata sakti lagi. Zimat juga tidak. Mungkin sekarang sabar berarti hilang. Hilang dari kamus kehidupan.
Berkebun, beternak, dan bertani. Terus seperti itu. Mereka harap, suatu hari nanti bisa membeli kendaraan bermotor. Ya, kendaraan bermotor yang gagah. Seperti di sinetron-sinetron. Bahkan rumah yang megah, pakaian yang mewah. Atau? Oh, ya. Mereka ingin pelesir ke luar negeri. Melihat-lihat Pyramida Mesir kuno, prajurit Dinasti Ming yang hebat, lukisan-lukisan Da Vinci, kincir angin negeri jeruk, kereta tanpa rel negeri Nazi, bahkan Ka’bah. Ya, Ka’bah. Pusat kiblat seluruh dunia ketika shalat.
Hitung. Hasil panen dihitung. Nyatanya, ongkos produksi lebih besar dari satuan harga hasil alam yang mereka olah. Sebab pupuk subsidi susah ditemukan. Kalau pun ada, harganya tidak seperti tayangan iklan layanan masyarakat di layar kaca.
Sabar, tumbuh kembali menjadi kata sakti. Tidak ada pilihan lain. Berkebun, bertani, dan beternak yang bisa mereka lakukan. Mau berdagang tidak cukup modal. Belum lagi pesaing sekelas toko retail gaya ibukota yang bersih, ber AC, menyala terang, pakai komputer yang canggih. Wuih. Melihat saingan seperti itu saja bikin berdiri seluruh bulu kuduk.
Kemudian hari, yang mereka harapkan adalah sebuah keajaiban. Ya, keajaiban. Seperti di film-film. Mencari uang itu mudah. Tinggal datang ke orang pintar. Mereka pasti tahu solusinya.
Dengan mudah, kawanku berkata. “Wah! Selingkuh nih, ceritanya?”
Setelah dia melihatku mengemudi sepeda motor Honda Tiger Revo. Maksudnya aku dianggap menyelingkuhi sepeda motor tua –klasik- Honda CB-100 yang biasanya kutunggangi. Hobi kami tentang tunggangan besi roda dua, memang sejak dua tahun terakhir, sama. Atau cenderung sama –sepeda motor jadul- seperti juga sedang semarak di antara beberapa pemuda belakangan ini. Kami acapkali nongkrong di alun-alun kecamatan pada akhir pekan. Sekedar melihat-lihat perkembangan dan melepas penat. Ada yang menunggangi Yamaha 70, BSA, Honda 70, CB-Glatik –termasuk juga kawanku, dia merawat jenis ini- dan segerombolan Vespa dengan berbagai rubah-rangkai yang bermacam-macam. Dan banyak lagi kelompok-kelompok motor keluaran anyar. Biasanya, kami hanya memesan satu-dua gelas kopi dan beberapa bungkus camilan. Ada juga yang datang untuk makan malam di warung-warung kaget kaki lima. Kata ‘selingkuh’ mungkin berasal dari kata ‘sela’ yang kemudian jika beragam atau diulang terangkai menjadi ‘selang-seling.’ Sela, jika dijadikan kata benda tempat, menjadi ‘selat’ seperti Selat sunda yang berarti pemisah –separator- dan lagi-lagi mungkin kata –maaf- ‘selangkangan’ berarti sela di antara dua pangkal kaki. Bisa juga menggunakan kata ‘selah’ yang berarti ‘celah.’ Orang sunda, sampai saat ini masih banyak yang memakai kata itu –selah- seperti dalam kalimat “selah-selah batu” artinya celah-celah batu.
Pada perkembangannya (penyempitan) kata ‘selingkuh’ lebih dimaknai sebagai ‘penghianatan’ dan lebih sempit lagi menjadi penghianatan cinta. Misalnya seorang kekasih berselingkuh dengan perempuan/laki-laki lain. Pun seorang suami/istri menyelingkuhi pasangannnya.
Sejatinya, makna ‘sela’ diartikan ‘di antara’ atau ‘jeda’ –kt. Kerja- atau ‘pemisah sementara dari sebuah kesatuan/keutuhan’ lebih mudahnya, saya artikan sebagai ‘halte’ perhentian sementara, untuk kemudian kita melanjutkan perjalanan ke rute berikutnya. Contoh, kalimat “Kami, mengobrol di sela-sela acara.” Dan tentu saja, kata ‘selat’ tidak akan digunakan jika hanya ada satu pulau. Seperti juga kalimat ‘celah-celah batu’ tidak akan pernah diucapkan jika di situ hanya terdapat satu batu.
Sangat besar kemungkinan, kecenderungan manusia yang “pembosan” telah membidani kata selingkuh –sela- karena manusia buka robot atau malaikat yang tahan melakukan satu hal berulang-ulang dan terus-menerus –kontinyu- tanpa rehat. Layaknya kami nongkrong di alun-alun sebagai perselingkuhan atas aktifitas sehari-hari yang terasa membosankan. Hanya untuk melepas penat dan kemudian melanjutkan lagi aktifitas itu dengan keadaan psikologi yang lebih segar.
Ahir pekan lalu, kawanku bercerita tentang kawannya berselingkuh dengan gadis tetangga kampung. Dan parahnya, setelah pacarnya menangkap basah perselingkuhan itu, kawannya kawanku malah memutuskan tali kasih yang sudah berjalan tahunan itu. Dia lebih memilih si cantik jelita kenalan barunya saat menonton wayang golek di alun-alun kecamatan kami ini sebulan yang lalu. Dengan alasan, kekasihnya itu sudah tidak lagi perhatian, tidak lagi mesra dan bahkan cenderung terasa membebani hari-harinya.
“Semoga saja, para pejabat negeri ini tidak berlama-lama berselingkuh dengan penggelapan dana masyarakat banyak, kawan!” celotehku sekenanya. Dia mencibir.
Kuseruput kopi ‘dukun’ – begitu kunamai kopi hitam tanpa gula- lalu kuhisap rokok dalam-dalam.
“Apalagi tidak kembali kepada cita-cita membela dan mensejahterakan rakyat.” Jawabnya kemudian.
“Ya! Walaupun kita sering menunggak tagihan pajak, air, dan listrik.” Aku menimpali.
“Aku malah memanipulasi nilai pajak yang harus dibayarkan perusahaanku.” Jawabnya lagi.
“Hehehe. Aku sampai detik ini, belum pernah merasa membayar pajak, kecuali hanya pajak kendaraan bermotor saja.” Aku menimpali lagi. Dan kami tersenyum miris.
Jangan-jangan para pejabat negeri kita ini sudah nyaman tidur di halte, seperti aku merasa nyaman mengendarai si “Harimau hitam” besi roda dua baruku, alih-alih harus kembali mengurus si CB-100 yang selalu rewel. Dan jangan-jangan para pejabat kita tidak lagi mau beranjak dari selangkangan, seperti kawannya kawanku yang malah mempererat pelukan dan pagutan di bibir si gadis manis tetangga kampung, alih-alih melirik kembali mantan kekasihnya yang telas puas dilumati.
Ah, mungkin saja kata sela, selat, selah, saat ini sudah bergeser maknanya menjadi di antara sesuatu dan sesuatu yang entah.
OREGANO, CAFE PENUTUP! -tabir tetanya, terkuak sudah! bertemu jawabnya, lalu memilih!-
Pada babak ini, aku dan khayalan mulai menyatu dalam satu irama. Nyata, harus menentukan salah satu dari opsi yang tersedia. Dan sebelum memilih, sudah kupelajari kemungkinan konsekwensi yang akan tertuai, buah cikal pilihan itu sendiri. Aku mulai resah dengan ketidakpastian. Padahal, aku sendiri yang menciptakan ketidakpastian itu. Ah maaf, bukan aku sendirian. Melainkan, beberapa tanda berhasil kukumpulkan, dan mulai kusimpulkan jadi “ketidakpastian” itu. Ketidakpastian akan hal paling misterius dalam perjalanan hidup manusia! Kadang berupa “Jodoh,” kadang berupa “Rizki,” dan kadang berupa “Maut.”
Sembilan purnama sudah, kudatangi kau dengan ratusan kemungkinan. Tertatih-tatih sudah aku menyapamu dengan berbagai cara. Dari yang paling heroik, hingga yang paling bodoh! Dan kau tahu sudah, seperti apa jalan pikiranku. Juga seperti apa aku berperilaku.
Kemungkinan besar, kau terkaget-kaget oleh kedatanganku yang tiba-tiba saja merapat bagai kapal tanpa kelakson, bagai ambulan tanpa sirine, bagai hujan tanpa mendung. Karena kau, tak sadar aku ingin sekali mengenalmu lebih dekat, semenjak perjumpaan pertama kita. Jika di sebuah perjalanan kau bertanya mengapa aku melakukan hal yang paling misterius dalam sejarah perjalanan manusia, maka jawabannya adalah karena aku memujamu! Aku mengagumimu pada pandanganku yang pertama. Sejak belia kala, sejak kita belum mampu mengeja makna “Cinta!” Maka, pada umurku yang hampir seperempat abad ini, telah cukup keberanian kukumpulkan dan kesempatan kudapatkan dari temu-kencan, canda-tawa, dan kabar-mengabari. Kau tahu, apa yang sudah kuupayakan.
Genap sudah pertanyaan paling misterius dalam sepanjang sejarah hidupku. Pupus sudah kesangsian atas dirimu. Dan sekarang kita sama-sama tahu apa yang ada pada diri kita. Apa yang ada pada dirimu, apa yang ada pada diriku. Tidak ada lagi yang perlu dipertanyakan. Aku rasa, sekaranglah saatnya untuk menentukan pilihan, dan mempersiapkan kehadiran segala konsekwensi dari pilihan itu.
Sampai, dan atau Tidak! Menurutku, bukanlah menjadi bagian paling fundamental pada pemaknaan sebuah cita-cita. Tidak menjadi hal paling penting dalam meterasi sebuah keberhasilan. Layaknya selembar Ijazah, tidak menjadi tolak ukur kemampuan seseorang atas apa yang tertera di dalamnya. Aku menganggap, terma “berproses” itu sendiri yang paling penting untuk diapresiasi. Dijadikan barometer atas sebuah “keberhasilan.” Karena pangkat jendral seseorang dan orang lain, mungkin saja sama dan setara. Tetapi sudah menjadi kesepakatan bersama, prosesi menuju “kejendralan” seseorang dengan orang lain, tentu saja berbeda!
Seperti inilah aku membaca kehidupan. Puas sudah aku bisa mengenalmu lebih jauh. Dari tutur kata, hingga caramu memperhatikanku. Caramu bekerja, dan caramu berleha-leha. Terjawab sudah pertanyaanku selama ini atas dirimu. Sirna sudah, catatan “PR” dalam dinding hatiku. Dan hilang sudah keinginanku untuk memperkenalkan, siapa aku kepadamu. Karena, aku yakin kau tahu siapa aku. Dan inilah bab yang paling sempurna dalam desertasi dan proyeksi misteriku atas dirimu.
Saat kau membaca catatan ini, aku dalam perjalan pulang ke tanah kelahiranku. Aku bertekad memperbaharui niat. Menutup segala kisah tentang pertanyaan-pertanyaan paling misterius sepanjang sejarah hidupku. Lengkap sudah, dan aku tahu jawabannya dari pesan singkatmu. Seperti apa caramu memilih keputusan. Dan kita sudah mengenal satu sama lain. Memilih, dan memberikan jawabannya. Mempersiapkan konsekwensi apapun yang terjadi dibalik historia tentang cerita kita.
Semoga saja, ini jalan yang terbaik! Dan marilah bersama-sama kita ucapkan, “Selamat datang catatan baru!” dan segala apa yang sudah terjadi, mudah-mudahan mendewasakan kita akan pemaknaan dan penghayatan hidup.
Kau, baik-baik di kampung orang! Aku turut berdo’a untuk keberhasilan apapun yang sedang kamu rencanakan. Semoga semuanya tercapai sesuai harapan. Amien!
Kau, tahu? Aku mencatat semua ini, di café yang pernah kita kunjungi bersama seorang teman yang sekarang pulang ke Kalimantan. Teman karibmu, juga tetangga kosanku! Aku berkostum hitam, dari Helm, hingga sandal. Memesan secangkir kopi pahit, segelas jus alpukat, segelas jus mangga, dan sepiring nasi goreng bali! Jelentik nada piano sayup-sayup kudengar berlarian dari pengeras suara! Ah, sempurna sekali rasanya makan malamku saat ini! Sesempurna catatanku, aku rasa! Puji syukur, Tuhan!
Beberapa hari ke depan, menjadi hari-hari yang paling sulit bagiku untuk membiasakan diri tanpamu ada di benak ini. Mungkin juga kamu. Biarkan ia berjalan seperti itu, seperti apa adanya. Merubah kebiasaan ke kebiasaan yang lain, selalu membutuhkan masa transisi. Ada beberapa keterikatan yang perlahan mesti belajar kulepaskan. Mungkin juga kamu. Bersamaan dengan berjalannya waktu, itu semua akan berganti dengan perasaan yang baru. Dan seperti itu, seterusnya!
Satu bulan lagi, hari ulang-tahunku. Tolong kau simpan saja rapat-rapat apa yang ingin kau katakan di hari itu (seandainya ada yang ingin kau katakan). Biarkan aku belajar menjadi diriku sendiri. Itu membuatku lebih mudah dan lebih cepat mengendalikan kembali keadaan psikologi ke keadaan semula. Ke kondisi netral. Mungkin kamu juga!
Terima kasih, atas segala yang telah kau berikan! Dan terima kasih, kau meluangkan waktu untuk membaca catatan ini. Dan mohon maaf, atas segala kekhilafanku!
Salam, SangKaKaLa
Oregano, 17 Juni 2009 M. Pukul, 19:59 – 21-49 WIB.
Hari ini, saya mengulang masa lalu. Menyepakati kembali kesimpulan yang sangat menakutkan. Menganggap diri sendiri sebagai penyakit, wabah, derita orang lain. Terasa ke manapun singgah, selalu ada yang terluka. Lebih-lebih menangis. Tersakiti. Baik oleh perbuatan atau ucapan. Mungkin saya memang penyakit.
Lalu, terbayang lagi sebuah pelarian, lari dari kehidupan orang banyak. Mungkin benar, saya bukan manusia. Karena manusia, selalu bisa bersosialisasi, tapi saya tidak! Ada titik-titik di saat saya mencoba berlari dari kehidupan itu sendiri.
Akan lebih baik, tidak tercatat dalam sejarah kehidupan; dari pada tercatat sebagai “biang kerok” permasalahan. Selalu membuat orang geram, marah, mengutuk.
Tidak, saya tidak sedang berusaha menjadi malaikat yang katanya selalu benar. Patuh. Tidak pernah melakukan kesalahan sedikitpun. Terbebas dari segala dosa. Dijamin masuk sorga. Tapi, setidaknya, jangan juga menjadi iblis. Selalu dikutuk, dikecam. Bukankah, keberlarian itu menjadi pilihan yang lebih tepat? Bahkan, pernah beberapa kali saya bertanya. Mengapa harus dilahirkan, menjadi bagian dalam sejarah kehidupan manusia?
Ah, mungkin saya sedang sakit. Besok harus menemui psikiater!
Perjalanan hidup tidak sesederhana yang saya bayangkan. Semakin sulit membedakan, mana yang wajar; dan mana yang sebaliknya.
Bisa jadi, saya orang yang terlambat dewasa memahami pluralitas, tarik-ulur, baik-buruk, tinggi-rendah, dan tentunya dengan setiap gradasi-gradasi dalam setiap masing-masing susunannya.
Mungkin juga, keadaan yang belum berkenan menunjukkan jalan yang kemudian bisa dijadikan patokan untuk berinteraksi. Patokan standar. Tapi lagi-lagi, patokan standar selalu dikembalikan kepada pendapat umum yang belum pasti menjadi sebuah kebenaran. Mencari dan mempertahankan kenyamanan menjadi sesuatu yang harus dibayar mahal. Bukan hanya dengan materi, tapi terutama dengan dan oleh konsekwensi-konsekwensi yang terkadang mengganggu kenyamanan itu sendiri.
Tapi, kehidupan harus melulu sejajar dengan tuntutan. Karena kehidupan adalah tarik-ulur, sebab-akibat, neraca.
Mengejar apa yang kita impikan harus melulu membutuhkan perjuangan dan pengorbanan. Sangat jarang sekali mimpi didapatkan dengan mudah, sekalipun ada kepuasannya tidak sempurna. Ambilah sebuah contoh, hari ini saya memimpikan punya pesawat pribadi yang kapan saja saya mau bepergian tidak usah lagi direpotkan dengan waiting list. kemudian datanglah si dermawan memberikan pesawat itu. Tentu saja kepuasannya jauh berbeda dengan ketika saya berjuang sendiri mendapatkan apa yang diimpikan itu dengan selaksa perjuangan dan pengorbanan.
Setelah jadwal Tarawih Tour #1 yang ternyata terbentur dengan agenda lain, kami menyiasati konsistensi jadwal dengan mengundurkan Target Mesjid Imam Syafi'i ke Tanggal 3 Ramadhan yang seharuskan di Mesjid Al-azhar. Sebelum berangkat, ada beberapa pertimbangan yang harus difikirkan. Opsi Pertama, Berangkat lebih awal mengingat jarak dari Mantiqah (Pemukiman) kami ke Mesjid Imam Syafi'i menghabiskan waktu kurang lebih 45-75 Menit. Opsi Ke-dua, Berangkat setelah berbuka puasa mengingat akan susah mencari makanan pembuka di sekitar Mesjid. Karena yang saya bayangkan (Pengalaman berkunjung 3 tahun lalu) pemukiman di Sekitar Mesjid Imam Syafi'i masih tergolong Kampung, walaupun tidak terlalu jauh dari pusat kota.
Setelah berfikir berulang kali, akhirnya kami memutuskan memilih opsi ke-dua. Seharusnya ketika memilih opsi ke-dua ini, tidak menghabiskan waktu banyak untuk berbuka. Karena harus segera mengejar Tarawih. Tapi apa mau dikata, keterlambatan pun terjadi. Terutama untuk Antri mandi. Setidaknya 40 Menitan hanya untuk alokasi mandi. Hingga menjelang Isya baru bisa berangkat dari Mantiqah. dan tentu saja terlambat. Memasuki Tarawih Rakaat ke-3 sampailah di tempat tujuan. Sebenarnya sudah dari awal Masuk ke Mesjid, perasaan saya mengatakan ini bukan Mesjid Imam Syafi'i. Tapi karena si Sopir Angkot mengatakan ini Mesjid Imam Syafi'i dan di tambah lagi bangunan Mesjid itu baru saja direnovasi dan tentu saja mengaburkan memori 3 tahun lalu ketika saya sempat diajak berkunjung oleh Salah seorang Senior. Masuklah kami ke mesjid itu. dan menyelesaikan Shalat Tarawih yang kemudian kami susul dengan Shalat Isya.
Dengan hati penasaran kami pun bertanya kepada Masyarakat sekitar sana. Benar saja, Mesjid Imam Syafi'i yang asli sekitar 100 Meter dari tempat kami Tarawih. Ternyata Rute Trayek Angkot sudah berubah, dulu Anggot berhenti tepat di depan gerbang Mesjid Imam Syafi'i. Sekarang sudah dipindahkan agak ke luar. itupun tidak ada lagi Pangkalan Angkot, hanya Jalan sempit yang dipadati lalu-lalang kendaraan Umum.
Agak sedikit mendongkol sebenarnya, tapi itu sudah terjadi. Mau-tidak mau besoknya harus kembali ke sana, karena jika menunggu tanggal ganjil lagi (5 Ramadhan) maka harus mengorbankan 2 Target Mesjid yang lain.
4 Ramadhan
Belajar dari pengalaman (Try and Error), itu mungkin jargon yang membuat kami berangkat lebih awal. Satu jam sebelum Maghrib tiba, sudah bertolak dari Mantiqah. Dihantar oleh pak Sopir Taksi, karena tidak ada Mobil Angkutan dari dan ke pemukiman. Kecuali jika ada Bus yang lewat. Kebetulan Mantiqah Kami dekat dengan Pangkalan Bus Kota Pemerintah yang datang untuk mengisi Bahan Bakar Gas.
Tidak terlalu lama menanti, ada Mini Bus Jurusan Sayedah 'Aisyah yang ditunggu.
"Sayedah 'Aisyah ya 'Ammu?" ("Ke Sayidah 'Aisyah, Paman?")
Pak Sopir tua lantas mengangguk mengiakan. Sedikit berlari kami menaiki Mini Bus itu, padahal sedang menunggu 'tukang' Kios untuk membayar Air Mineral dan Makanan Pembuka. Persediaan saja, takut berbuka di jalan. Akhirnya tidak jadi membeli persiapan berbuka, dan lagi Insya Allah tidak sampai kemaghriban di jalan.
Lagi-lagi perasaan saya terasa kurang sreg berada di dalam Mini Bus itu. Karena Mini Bus ke Sayedah dari Hay 'Asyir harusnya bernomer 45, ini bukan. Tapi biarlah, mungkin ada Mini Bus Nomer lain yang juga Jurusan Sayedah 'Aisyah. Toh di depan kaca Mobil itu tertulis pula Sayedah 'Aisyah.
Ah, Benar saja. Ternyata Mini Bus itu tidak langsung ke Sayedah 'Aisyah. Tetapi memutar dulu ke Arah Tahrir. Biarlah, sekalian Shalat Maghrib di sana. Beberapa Kilo Meter lagi sampai ke Tahrir, terdengar suara besi patah dari bawah Mesin kendaraan yang kami tumpangi. Lagi-lagi Musibah terjadi, kami tidak bisa melanjutkan perjalanan dengan Mini Bus itu. Mogok, mungkin Tongkat persenelengnya patah.
Terpaksa mencari Angkot Jurusan Tahrir atau Ramsis, Terminal paling dekat dari sana. Tapi sebelumnya kami sempat 'adu mulut' dengan bapak Sopir Mini Bus.
"Paman, kami tidak terima diperlakukan seperti ini" "Kenapa? Ma'af, ini kan musibah" saut pria setengah baya itu. "Bukan masalah itu paman, mengapa paman mengiyakan ketika kami tanya "Ke Sayedah 'Aisyah?"" saya menimpali, agak sedikit ngotot.
Hampir seperempat jam adu argumentasi. Alasan beliau, karena tidak mendengar dengan jelas apa yang kami tanyakan sebelum menaiki Mini Bus itu. Sebenarnya dia baru keluar dari garasi Perusahaan Angkutan, jadi walaupun di kaca Kendaraan tertulis Sayedah 'Aisyah, tapi dia harus ke Tahrir terlebih dahulu. Tetap saja kami kesal, kalau memang tak mendengar mengapa mengiakan? Seharusnya dia bertanya dahulu. Dan kesalahan Beliau yang ke-dua, tidak memberikan kami karcis tanda pembayaran; Dengan alasan ini kami sempat mengancam mengadukannya ke Perusahaan Angkutan yang tertulis besar di Body Mini Bus itu. Sebenarnya tidak tega mengancam, tapi biarlah untuk pembelajaran supaya tidak berlaku curang lagi.
Mesjid Yang Kurang Terawat
Alangkah terenyuhnya hati ini. Sampah berserakan di sekitar halaman Mesjid. Sangat jauh dikatakan terawat. Mungkin karena berada di perkampungan, ditambah lagi di sekitar Mesjid itu banyak sekali Pedagang Kali lima dan Toko-toko kecil. Bahkan tepat di depan gerbang Mesjid, Cafe Syisya -Rokok Arab yang biasa dihisap dengan selang yang kurang lebih 1 Meter panjangnya- mendominasi Los-los ruas jalan kecil itu. Saya membayangkan, mungkin di dalam Mesjid juga sama tidak terawatnya. Ternyata tidak, Ruangan Mesjid sebelah dalam tampak bersih dan bercahaya.
Itu mungkin kesan pertama melihat Mesjid Imam Syafi'i di daerah Sayedah 'Aisyah, Kairo. Sebelumnya, setelah 'adu argumentasi' dengan Sopir Mini Bus -hingga memaksa kami untuk berbuka di jalan-, tak lama kemudian melintas Angkot Jurusan Terminal Ramsis. Tanpa ragu lagi kami stop. Membeli makanan sekedar mengganjal perut dan Shalat Maghrib di Mesjid Ramsis, tepat di depan Bank Misr di bahu Jalan Raya. Tanpa kesusahan kami berangkat ke Sayedah 'Aisyah, mungkin bisa dikatakan Terminal Ramsis adalah pusat Transportasi. Bus Jurusan mana pun ada. Hingga ke Luar Kota. Bahkan Kereta Api.
"Gila, gi (panggilan saya) ini Mesjid apaan? gede banget!" "Oh, ini kayaknya Mesjid Rifa'i deh. Coba tanyain ke Orang Mesir yang di samping lo!"
Setelah ditanyakan, tak jauh dari perkiraan. Perjalanan dari Terminal Ramsis ke Sayedah 'Aisyah dengan Angkot yang kami tumpangi memang melalui dua Mesjid yang berdampingan [Mesjid Rifa'i (dibangun antara tahun 1356-1363 oleh seorang Wanita, Yaitu Ratu Dowager Khushyar) dan Mesjid Sultan Hassan]. Juga tak jauh dari Kedua Mesjid yang seakan 'Berteman' itu, berdiri dengan megahnya Mesjid Muhammad Ali (dibangun tahun 1830 oleh arsitektur Yunani bernama Youssef Bochna) yang dulunya tidak hanya Berfungsi sebagai tempat Ibadah, tetapi dipergunakan juga sebagai Pengadilan. Sekarang hanya jadi Musium tempat Pelancong berpariwisata.
"ayo gi, kenapa berhenti di sini?" "bentar ah, gw mo nyogar (Merokok) dulu nih. Nyampe sono kaga' enak bego, nyogar pasti diliatin lo!"
itu mungkin sedikit perbincangan, sebelum akhirnya menaiki Angkot yang memboyong kami dari Sayedah 'Aisyah ke Halte Imam Syafi'i.
Dering Ponsel Mengganggu Konsentrasi
Setelah Adzan berkumandang, Masyarakat berdatangan untuk Shalat Isya dan Tarawih. Sangat padat, mungkin ada juga yang tidak kebagian tempat dan terpaksa Shalat di pelataran Mesjid. Rupanya Nama Imam Syafi'i masih harum hingga saat ini. Padahal beliau dilahirkan sekitar 13 Abad yang lalu, tepatnya tahun 150 H.
Shalat Isya Berjama'ah diawali dengan Iqamah. Ada satu has di Mesjid ini yang sangat mirip dengan budaya Indonesia, Yaitu cara Mengucapkan kata 'Amien' pada akhir pelapalan 'Ummul Qur'an'. Jeda yang pas dengan 'Getaran' hati Indonesia saya. Sangat sulit di dapatkan di Mesjid lain di Mesir. Membuat saya harus rela sedikit terharu, mengingat 2 tahun sudah tidak berjama'ah Tarawih di Tanah kelahiran dan bisa jadi 2 Iedul Fitri juga tidak sempat bertatap muka dengan Keluarga. Kemudian dilanjutkan dengan Shalat Tarawih.
Dering Ponsel. Padahal sudah sangat akrab sekali kata-kata "Harap Mematikan Ponsel Di Mesjid Ini" tetapi bukan manusia namanya jika bukan menjadi tempat 'Salah dan Lupa'. Saya cukup kesal dibuatnya, Monophonic pula! Suaranya yang menggigit telinga "Bip! Bip! Bip!" sangat mengganggu ke-khusu'-an berjama'ah. Termasuk Imam. Fatalnya tidak hanya sekali, tetapi berkali-kali. Harusnya si pemilik Ponsel langsung menekan Tombol Power, tetapi tidak dilakukan; Atau mungkin memang Polsel itu tidak bertuan! Astaghfirullah, Jangan mengumpat!
Dua Rakaat Tarawih itu sudah terganggu, hanya karena Dering Ponsel. Selesai salam, Bapak Imam mengingatkan seluruh Jama'ah yang membawa Ponsel untuk mematikannya. Lalu kembali Takbiratul Ihram, Allahu Akbar! Tetapi lagi-lagi di antara Rakaat satu dan dua, nada menggigit itu kembali terdengar, sepertinya dari sumber yang sama. Sialan...!! Hati saya mengumpat. dan ternyata bukan hanya saya, mungkin sang Imam ikut pula mengumpat hingga lupa hafalan Qu'an yang sedang dia lantunkan. Membuat beberapa Ma'mum yang lain mencoba meneriaki, membantu lanjutan potongan ayat yang terputus itu.
Masalah dering Ponsel pada saat berjama'ah harusnya dianggap serius, karena bisa mengganggu ke-khusu'-an beribadah. dan tentu saja merugikan orang banyak. Apa susahnya hanya untuk menonaktifkan Ponsel? atau jika memang tidak ingin mamatikannya, cukuplah pilih 'Profile Silence' yang tidak bunyi dan tidak getar. dan jika dianggap perlu, tinggalkan sajalah Ponsel itu di rumah. dan katakan, Saya sedang sibuk 'Menghadap Allah', bukankah untuk menghadap manusia saja terkadang perlu untuk mematikan Ponsel?
Mengunjungi Makam Sang Imam
Tentu saja tujuan terpenting dari kunjungan kali ini bukan hanya ingin mengetahui dan memperbandingkan cara 'bertarawih', tetapi tujuan selanjutnya untuk berziarah. Tiga Tahun sudah, baru bisa melihat peristirahatan terakhir Sang Imam lagi. ada sebuah kekangenan yang menyelimuti hati. Ini Makam Imam besar, Saya kembali mengumpat.
"eh, gi! itu kertas-kertas sama duit buat apaan ditaro di Makam imam syafi'i?" "gak tau, buat yang ngurusin Makam kali!" "ye, kalo buat yang ngurusin Makan, Kenapa gak dikasih sama Pengurus Mesjid aja Sekalian; atau langsung aja tanyain, siapa yang ngurusin nih Makam!" "bener juga yah, gak tau dah!"
Sempat saya berfikir, mungkin gak yah orang Mesir yang dianggap 'Ibunya Dunia Pendidikan Keislaman' justru malah melakukan hal-hal yang dianggap 'Khurafat'? ah, entahlah. Bisa jadi, bisa Jadi. Bukankah manusia itu lagi-lagi 'tempatnya salah dan lupa'?
Setelah berpose secukupnya, kami segera pulang. Sebenarnya masih sangat ingin berlama-lama melihat-lihat sekeliling Mesjid itu, tapi apalah daya; Memang Jam 9 Malam Mesjid ini harus segera ditutup. Kami termasuk orang yang paling terakhir keluar; itupun karena melihat lampu-lampu Mesjid satu-persatu dimatikan.
Cukup sekian dahulu cerita perjalanan Tarawih Tour #2. Terima kasih telah ikut membaca dan menyimak. Nantikan Cerita Tarawih Tour #3 yang ditargetkan di Mesjid Al-azhar.